mediabogor.com, Bogor – Gapura yang kental dengan nuansa etnis Tionghoa ini memang sengaja dibangun Pemerintah Kota Bogor sebagai pintu gerbang menuju kawasan Pecinaan, serta sebagai bukti nyata diterimanya keberagaman etnis budaya dan agama di Kota Hujan. Hal ini seolah menjelaskan bahwa etnis Tionghoa dan Bogor merupakan bagian yang tak terpisahkan. Namun sayang, proyek bangunan yang diresmikan pada (10/2) lalu ini serta memakan dana cukup besar tersebut kini terlihat tak terurus lagi.

Buktinya, tak ada lagi warna lampu yang bersinar terang menghiasi sang gapura perlambang kesucian keberagaman antar etnis budaya tersebut ketika malam hari, sampah pun turut berserakan disekitaran gapura, kemegahan bangunan tersebut pun seakan kehilangan kesuciannya ketika lapak para penjual sayuran di Ps. Bogor mulai mengisi setegah ruas Jl. Suryakencana pada malam hari. Di siang hari pun sang gapura tetap terlihat kumuh dan kisruh akan lapak-lapak parkir liar yang berjajar persis dibawah sang gapura. Tak sedikit warga yang mengeluh akan wajah sang gapura istimewa tersebut saat ini, SF, mahasiwi salah satu kampus yang terletak di daerah Suryakencana pun mengaku risih akan kondisi bangunan yang kini mulai tak terawat lagi itu.

This slideshow requires JavaScript.

Tentu kejadian ini menjadi hal yang amat bertolak belakang dari ucapan sang Walikota pada saat peresmian bangunan ini. Menurutnya, gerbang yang dominan dengan warna merah dan mengadopsi struktur gerbang khas masyarakat kawasan Pecinnan tersebut akan dijadikan salah satu ikon bahwa Bogor merupakan kota pusaka. “Jalan Suryakencana salah satu jalan tertua di┬áKota Bogor┬ádan kawasan ini memiliki nilai sejarah,” ungkapnya saat peresmian lawang tersebut. (IB)

Foto: Indra