Mediabogor.com, Bogor – Fungsi irigasi tak dipungkiri lagi sangat penting dalam menunjang pertanian terutama sebagai pemasok air pada lahan persawahan. Namun begitu, sistem irigasi yang sudah berkembang sejak dulu, kini mulai tergerus seiring perkembangan jaman, tak terkecuali di Kota Bogor. Kelompok Tani (Poktan) Harapan Warga, di Kelurahan Katulampa, Kecamatan Bogor Timur, Kota Bogor merasakan hal serupa. “Pengalihan sebagian lahan persawahan dengan ditanami jagung karena terkendala tidak adanya pasokan air irigasi yang maksimal. Kami sudah mengusulkan pembenahan ¬†irigasi, tapi alasan pemerintah ada pembangunan jalan regional ring road (R3),” tutur H. Ukay, Ketua Poktan Harapan Warga.

Menurutnya, para petani harus merelakan persawahan yang semula digarap di atas lahan seluas 1,9 hektar, 30 persennya dikonversi menjadi lahan perkebunan. Hasilnya, swasembada pangan dari sektor padi pun mengalami penurunan hingga 20 persen. “Degradasi atau penyusutan lahan pertanian yang berubah menjadi perumahan disinyalir menjadi salah satu faktor penyebab irigasi menjadi tak berfungsi secara maksimal,” ungkapnya.

Dinsisi lain, Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air (DBMSDA) Kota Bogor mengidentifikasi kondisi irigasi dari dua sumber air, yaitu Sungai Ciliwung dan Cisadane, beberapa jaringan irigasi sudah tidak berfungsi secara maksimal. “Irigasi di Kota Bogor tersisa kurang lebih ada 300 hektar dan sekarang sedang diusulkan ke Kementerian PU untuk mendapatkan surat keputusan (SK) berkaitan dengan data terbaru irigasi,” kata Kabid Sumbur Daya Air (SDA) pada DBMSDA Kota Bogor, Asep Yayat Surtyatna, Selasa (20/9).

Dia melanjutkan, irigasi yang menjadi sumber penyedian air pada lahan persawahan saat ini hanya berfungsi sebagai saluran pembuang, penggelontoran, pembawa dari mata air, bahkan ada yang sudah tidak berfungsi atau mati.

Di Kota Bogor, lanjut dia, jaringan irigasi yang dinilai masih berfungsi mayoritas berada di wilayah Kecamatan Bogor Selatan, Bogor Barat, Bogor Timur dan sebagian Bogor Utara. “Karena lahan pertanian di wilayah ini masih terbilang banyak. Sedangkan irigasi yang kurang berfungsi karena adanya penyempitan atau tertutup pemukiman penduduk, saluran mati dan pendangkalan rata-rata berada di wilayah Kecamatan Bogor Tengah dan Tanah Sareal,” tambahnya.
Asep mengaku, pihaknya terus berupaya mempertahankan pemamfaatan irigasi bagi lahan pertanian, itupun dari sisi pemeliharan infrastruktur irigasi setelah berkoordinasi dengan Dinas Pertanian. Memang, kata dia, kondisi irigasi saat ini cenderung telah berubah fungsi seiring perkembangan kebutuhan masyarakat akan perumahan. “Makanya, ini harus dipertahankan dengan langkah yang musti ditempuh jangan memberikan izin pembangunan perumahan pada lahan pertanian,” tukasnya. (*)