Mediabogor.com, Bogor – Lahir di Purbalingga pada 21 September 1992, tidak menjadikan pemuda 24 tahun ini takut untuk membuka usaha di daerah orang lain, menjadi seorang pendatang tentunya bukanlah hal yang mudah untuk bersosialisasi dan beradaptasi dengan lingkungan sekitar. Mahasiswa ekstensi Fakultas Ekonomi Universitas Pakuan Bogor ini menjadi saksi hidup sekaligus pelaku dari sistem bisnis ekonomi yang menganut paham bahwa siapapun bisa meraih kesuksesannya jika mau bekerja keras.

Sempat malu untuk memulai usaha sebagai petani jamur, Septiyono, kini sukses menyingkirkan segala macam egonya. “Seperti ada rasa ketertarikan sendiri dari diri saya yang timbul, entah dari mana, tapi rasa itu muncul sendirinya, yang namanya merintis pun saya bisa dikatakan benar-benar merintis, karena tidak adanya pengetahuan yang pasti akan jamur serta munculnya rasa keingintauan akan jamur yang begitu besar, membuat saya berani untuk mencoba belajar bertani jamur dari tahap pengolahan media tanam, penyuntikan bibit, perawatan, hingga tahap pemanenanan,” ujarnya pada mediabogor.com

Bahkan ketika belum menjadi mahasiswa ekstensi, Septiyono meluangkan waktunya untuk lebih memperdalam ilmu usaha barunya itu. “Dulu saat ada jeda kelas dari mata kuliah satu, ke mata kuliah lainnya. Saya menyempatkan diri untuk kembali pulang ke kebun untuk mengecek perkembangan jamur hasil bertani saya ini. Semua hal ini saya lakukan agar kelak saya dapat memahami waktu estimasi para pekerja serta hasil kerja yang objektif” lanjutnya.

Merintis sejak 12 tahun lalu bersama sang kakak, kini Septiyono sudah memiliki puluhan pekerja dan lahan jamur kurang lebih sekitar 1 hektar di wilayah perkebunan Jamur Tiram Wirianto Kampung Cijeruk-Karakal, Kab. Bogor. “Mengapa harus memilih jamur? Karena sebelumnya kami sudah menyadari bahwa jamur dapat panen dan diproduksi hampir setiap hari, artinya ada perputaran uang yang sangat deras disana, ditambah pada saat itu petani jamur yang masih sangat minim keberadaanya di Bogor. Sehingga kami melihat adanya peluang disana,” sautnya.

Kini dengan segala macam kendala dan problematika usaha yang sudah dilalui, usaha jamurnya sudah dapat memproduksi dan memanen sekitar 3000 – 3500 media tanam dengan persebaran penjualan hingga wilayah Jabodetabek atau mungkin sekitar 7 hingga mungkin 10 juta rupiah setiap harinya.

Septiyono berpesan kepada para generasi muda yang ingin menjadi pengusaha kelak, bahwa jangan takut untuk memulai dan melakukan sesuatu, karena kedepannya kelak kita tidak akan pernah tau apa yang terjadi, maka jangan menyerah, teruslah semangat mencoba dan bekerja keras. (IB)

Foto: Indra