Bebaskan Bogor Dari Gay

mediabogor.com, Bogor – Eksistensi kaum pelangi di tengah budaya ketimuran masyarakat negeri ini tak dapat diragukan dan dianggap sebelah mata lagi. Kian hari pergerakan masif mereka tak hanya menebar teror bagi generasi, namun juga merusak piranti keluarga melalui maraknya kasus perceraian akibat perselingkuhan sesama jenis. Terbukti, kasus perceraian dikarenakan perselingkuhan sesama jenis tersebut telah melengkapi kenaikan angka perceraian di Kota Bogor pada awal tahun ini. Baru dua bulan berjalan, enam orang istri telah menggugat cerai suaminya yang gay. Di kesempatan yang sama, empat orang suami menalak istrinya yang lesbi.

Ironis memang jika kita memperhatikan problem ini, mengingat Kota Bogor memiliki slogan sebagai Kota Beriman. Namun, realita maraknya kaum pelangi yang bertebaran di kota tersebut justru semakin marak. Bahkan menjadi faktor pemicu perceraian dalam rumah tangga. Hal ini tentu tak dapat dibiarkan berlarut-larut menjangkiti keluarga dan generasi kita. Di sisi lain, kita tak dapat menampik dan perlu menyadari bahwa bercokolnya sistem sekulerisme dan liberalisme di tubuh masyarakat -termasuk dalam kehidupan keluarga- itulah pintu awal terwujudnya eksistensi kaum pelangi tersebut. Oleh sebab itu, untuk memerangi kaum pelangi yang notabene telah banyak menuai luka pilu bagi generasi dan keluarga, dibutuhkan solusi sistemik.

Islam sebagai ‘way of life’ telah memiliki segenap perangkat aturan (sistem) kehidupan, yang dapat menjamin sehatnya kehidupan sosial masyarakat. Termasuk menutup rapat pintu masuk bagi kaum pelangi dengan tidak mentolerir perbuatan menyimpang tersebut dengan dalih apapun. Sebaliknya negara harus menjatuhkan sanksi sesuai hukum Islam untuk menghentikan perbuatan keji kaum pelangi tersebut.

Secara individu, Islam mengharuskan pelaku menyimpang tersebut untuk segera bertaubat dan kembali pada fitrahnya baik sebagai laki-laki ataupun perempuan. Di samping itu, masyarakat pun didorong untuk melakukan kontrol terhadap perilaku menyimpang tersebut termasuk kemaksiatan lainnya melalui aktivitas amar ma’ruf nahi mungkar, bukan malah mentolelirnya. Karena sikap toleransi terhadap perilaku menyimpang ini justru akan menyebabkan pelaku jumawa dan akan tetap memelihara kemaksiatan yang dilakukannya bahkan menjerumuskan lingkungan sekitarnya.

Tak cukup individu dan kelompok masyarakat yang melakukan upaya pencegahan, peran Negara yang jauh lebih besar serta efektif pengaruhnya dalam memberantas dan melindungi rakyatnya dari kerusakan serta kepunahan akibat perilaku menyimpang kaum pelangi sangatlah dibutuhkan. Dengan menerapkan paket kebijakan solusi sistem Islam dalam segala aspek, baik pendidikan, ekonomi, budaya, sosial dan hukum. Walhasil, dampak buruk virus kaum pelangi terhadap generasi dan keluarga, hanya dapat dihentikan dengan mewujudkan solusi Islam sistemik.

 

Oleh : Anisa Mumtazah
(Pengamat Sosial)