Bisakah harga taksi online naik di tengah pandemi?

Jakarta, KOMPAS.com – Menilai Sepeda motor online (ojol) tidak lagi direvisi sejak kenaikan di bulan Maret.

Padahal, berdasarkan Keputusan Menteri Perhubungan Nomor 12 Tahun 2019, tarif ojol Itu dapat dievaluasi setiap tiga bulan.

Lantas mungkinkah kadar ojol meningkat di tengah keadaan pandemi Covid-19?
Baca juga: Ojek Online Jabodetabek resmi dibandrol lebih mahal, dan ini respon masyarakat

Direktur Jalan dan Angkutan Multimoda Kementerian Perhubungan Ahmed Yani mengakui banyak pihak yang mengusulkan penyesuaian tarif angkutan.

Ia juga tidak menutup kemungkinan akan menaikkan tarif defisit dari kurs saat ini.

Namun, menurut dia, seiring berlanjutnya wabah Covid-19, ini bukan saat yang tepat untuk meningkatkan kadar sebum. Pasalnya, daya beli masyarakat saat ini sedang menurun akibat wabah tersebut.

Ia mengatakan dalam pembahasan hipotetis, Rabu (14/10/2020), “Kondisi surut lagi, bea masuk dinaikkan lagi, efeknya bakal lebih parah. Akun-akun ini menunggu saat yang tepat.”

Baca juga: Harga Ojek Online Jabodetabek dinaikkan resmi paling mahal

Selain itu, Yanni juga menegaskan pihaknya bersedia menyerap masukan dari berbagai pihak, termasuk pihak Sopir Ojol.

“Kami selalu berdiskusi dengan teman-teman di komunitas kami,” katanya.

Melihat masukan dari banyak pihak, Yanni tidak menutup kemungkinan kenaikan tarif ojol menyusul turunnya Covid-19.

“Mungkin kalau situasi Covid membaik, kita bisa naikkan (harga),” ujarnya.

READ  Luar biasa! Ternyata Antam akan mengerjakan Mount Gold seharga 228 triliun rupee!
Written By
More from Hamal Hamid

Para astronom menemukan bintang simbiosis pertama

Bisnis.com, Jakarta – Tim astronom internasional melaporkan bahwa Gaia18aen transien yang ditemukan...
Read More

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *