Cerita Seniman Mau Nikah, Bayar Mahar Pakai Daun Kering Yang Dilukis

mediabogor.com, Bogor – Memiliki kreatifitas melukis di atas daun kering ternyata menjadi anugerah tersendiri bagi Tedi Asmara. Dari skil yang ia kuasai itu, ia meminang Erna Winarsih Wiyono dengan mas kawin berupa daun kering yang dilukis.

Tedi Asmara atau yang lebih dikenal dengan panggilan Teddy Arte mengatakan, mahar lukisan di daun kering itu, adalah syarat yang diminta oleh orangtua mempelai wanita.

“Jadi, untuk meringankan, orangtua istri (mertua) yang minta sebagai pengganti mahar (uang panai). Kalo pakai syarat lain mungkin saya ga sanggup. Akhirnya saya menyanggupi. Lalu saya coba buat dan hasilnya di terima,” terangnya, Kamis (15/8/19).

Ia menjelaskan, lukisan yang diminta adalah gambar dirinya bersama sang mempelai wanita dengan latar belakang burung rajawali dan sepenggal puisi. Untuk puisi, itu dari calon mertuanya yang buat. Kemudian daun yang digunakan adalah daun karet kuning. Lama pengerjaannya cuma tiga hari.

“Saya menikah tahun lalu yakni di bulan Mei 2018 di Cipanas. Proses penjajakan kami sampai pelaminan itu singkat. Dan saya bersyukur punya niat jalannya dimudahkan,” ucapnya.

Istri Teddy, Erna Winarsih Wiyono menuturkan, tidak lazimnya mahar yang diberikan sempat mendapat tanggapan dari teman dan kerabat dekat. Ada yang bertanya langsung hingga ngejapri lewat telepon. Mereka bilang baru kali ini ada mahar seperti itu. Pikiran mereka umumnya mahar itu, seperangkat alat salat, pernak pernik perhiasan dan sebagainya yang bisa dibelanjakan lagi.

“Di sini, orangtuaku ingin memperingan mahar pernikahan. Jadi memudahkan dan tidak memberatkan seseorang yang sudah berniat untuk berumah tangga. Kita menilai, mahar berupa lukisan daun kering itu cukup mewakili. Melihat kondisi dan kemampuan seseorang. Tidak perlu menyediakan uang banyak, gedung mewah dan sebagainya. Setelah saya kasi penjelaskan baru mereka kagum dengan filosofi di balik itu,” terangnya.

Ia menjelaskan, mahar berupa lukisan dan puisi tersebut sarat akan makna dan filosofi hidup. Mahar yang dibuat adalah lukisan daun dengan kisah Rajawali Puteri Sapta Warna dan perjalanan proses daun dalam puisi karya Wiyono, ayahanda dari Erna.

Gambar Rajawali di maknakan sebagai lambang kekuatan yang atas izin dari sang Maha kuasa, restu dari orangtua dan keluarga besar untuk melepaskan putrinya yang akan diberikan kepada pria lain untuk berlayar bersama mengarungi kehidupan yang baru.

Sedangkan makna dari isi puisi adalah pesan dari sang ayah yang besar dari keluarga berfilsuf tanah Jawi dan Indonesia timor, yang melepaskan puteri pertamanya untuk menempuh kehidupan baru dalam sebuah perahu dengan nakhoda imam yang baru.

“Sedangkan lukisan daun adalah konsep saya,Teddy, dan kedua orangtua saya. Akar pohon seni adalah berkarya dengan jujur tanpa plagiat. Kau adalah kau, bukan kamu atau dia, kita juga aku,” jelasnya.

Setelah menikah, kedua pasutri ini mengaku, ada peningkatan dan perkembangan dari usaha melukis di daun kering yang di geluti Teddy. Namun, Erna dan Teddy memiliki komitmen dalam menerima orderan yang masuk yaitu tidak menerima pesanan lukisan wajah untuk diberikan kepada pasangan yang belum menikah atau masih pacaran. Harus ada kisah inspirasi yang dituangkan dalam lukisan khususnya dalam menjalani hidup berumah tangga bersama pasangan. Jangan sampai keluar dari filosofi itu.

“Kita tidak menerima pesanan lukisan yang tujuannya untuk dihadiahkan kepada pasangan yang belum menikah. Dikhawatirkan, jika pasangan itu putus, lukisan yang sudah dibuat akan dibuang, dirusak hingga menjadi barang yang tidak berharga. Jadi kita seleksi,” ungkapnya. (*/d)