mediabogor.com, Tuban – Keberadaan Patung raksasa dewa Kongco Kwan Sing Tee Koen di Kelenteng Kwan Sing Bio, Tuban, Jawa Timur, terus menjadi perdebatan.

Kabag Humas dan Media Pemerintah Kabupaten Tuban, Agus Wijaya, mengatakan, pengelola kelenteng sudah berinisiatif menutup sementara patung tersebut dengan kain putih.

“Syukur, sebelum kami minta agar ditutup, pengelola patung sudah memiliki inisiatif untuk menutup patung terlebih dahulu sejak 2 hari lalu,” katanya saat dikonfirmasi, Selasa (8/8/2017).

Sementara itu, Beijing memberikan peringatannya kepada Indonesia agar meredam gerakan Anti China yang kembali merebak karena patung dewa.

“Gerakan Anti China di Indonesia sangat meresahkan para investor. Jika hal seperti ini didiamkan, kami terpaksa akan miskinkan Indonesia lalu kami ambil alih,” ancam Presiden China Xi Jinping.

Kemampuan China untuk memiskinkan Indonesia bukan hanya isapan jempol semata.

Peristiwa penaklukan China terhadap Angola adalah salah satu yang paling sukses.

Angola, sebuah negara di Afrika menjadi negara pertama yang secara resmi memberlakukan pelarangan terhadap agama Islam. Masjid menjadi bangunan yang terlarang, kitab suci al-Quran menjadi sekadar “buku” yang dilarang keberadaannya, sholat, puasa ramadhan, dan semua yang berbau Islam menjadi terlarang keras.

Proses pelarangan eksistensi Islam di Angola diyakini bukan tanpa sebab dan tanpa proses panjang. Mungkin ada banyak sebab, dan mungkin pula salah satunya adalah “serbuan investor dan pekerja Negara Komunis RRC” ke Angola.

Terkait dengan berbondong-bondongnya warga negara Cina ke Indonesia, Direktur Eksekutif Nurjaman Center for Indonesian Democracy (NCID) Jajat Nurjaman mengatakan, beredarnya video dengan judul Indonesia adalah Angola Berikutnya?

“Dalam video tersebut ditunjukan bagaimana Cina sukses menjadikan Luanda (ibukota Angola) sebagai kota yang maju. Namun, yang menarik adalah dengan dalih untuk kecepatan kerja dan efisiensi, pembangunan tersebut tenaga kerjanya pun didatangkan dari Cina, padahal tingkat pengangguran penduduk di negara tersebut tinggi. Ini merupakan gerakan senyap Cina untuk menguasai pereknomian sebuah negara” tutur Jajat.

 

 

(sumber:rakyatsumatera.online)