Edhy Prabowo menyarankan untuk mengganti MSG dengan bumbu berbahan dasar ikan

Jakarta, KOMPAS.com – Menteri Kelautan dan Perikanan Laut. Edhy Prabowo, tentang pentingnya konsumsi ikan Untuk anak-anak di seluruh Indonesia. Ini menjadi penting untuk memastikan kecukupan nutrisi Bayi.

Menurutnya, kondisi gagal tumbuh atau Stunting Ini tetap menjadi masalah nyata yang dihadapi anak-anak di Indonesia. Masalah ini tidak hanya ditangani oleh Kementerian Kesehatan, tetapi juga oleh kementerian lain.

Stunting Dilihat dari sisi, sepertinya ini menjadi tanggung jawab Kementerian Kesehatan. Faktanya, stunting tidak bisa hanya dikaitkan dengan satu kementerian, dan semua kementerian termasuk KKP, kata di KTT Ketahanan Pangan Jakarta – kira-kira 5, Kamis (19/11/2020).

Baca juga: Bagaimana kabar Maluku menjadi Kandang Ikan Nasional?

Untuk itu, Edhi menuturkan mengonsumsi ikan di usia muda perlu menjadi tradisi yang dipraktikkan oleh masyarakat Indonesia. Alasannya karena ikan tinggi protein sehingga dapat mencegah pemberian makan kronis.

Edhi juga menyarankan agar ikan tidak hanya dikonsumsi secara utuh, tetapi juga dikembangkan menjadi produk lain.

Monosodium glutamat juga telah disarankan ( MSG) Atau gantikan perisa dengan bahan yang berasal dari ikan.

“Ini bukan hanya ikan Bahan baku, Mengapa kami tidak dapat mulai mengganti produk yang menggunakan MSG, chiki, dll. Dengan produk berbasis ikan. “

Dengan potensi industri kelautan dan perikanan nasional yang besar, komoditas ikan dikatakan mampu menangkap kebutuhan hidup lainnya.

“Sektor ini juga bisa dimanfaatkan untuk keperluan non konsumen,” ujarnya.

Sebagai informasi, Indonesia terus menghadapi tantangan gizi buruk, khususnya stunting, yang dikhawatirkan semakin parah akibat pandemi Covid-19.

Menurut data Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K) tahun 2017, prevalensi stunting di Indonesia menempati urutan kelima di dunia. Dari 159 juta anak stunting di seluruh dunia, 9 juta di antaranya tinggal di Indonesia.

READ  Petunjuk bagus, Sesi 2 IHSG dapat memotong koreksi

Hasil Survei Status nutrisi Anak Muda di Indonesia (SSGBI) pada tahun 2019 menunjukkan prevalensi stunting sebesar 27,67%. Artinya untuk setiap 10 anak Indonesia, 3 anak mengalami stunting.

Baca juga: Menteri Edhi: Tanpa terumbu karang, menurut Anda ikan tidak akan melimpah

Written By
More from Hamal Hamid

Bagaimana uang investasi klien tidak dikembalikan? Ini kata Boss Juska

Jakarta, CNBC Indonesia Manajemen PT Jouska Finansial Indonesia (Jouska), firma jasa penasihat...
Read More

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *