“Guci Demokrasi Menuju Istana” Abadikan Momen Pilpres Lewat Lukisan  Cangkang Kulit Telur

mediabogor.com, Bogor – Setelah membuat lukisan Asian Games 2018 dari pecahan cangkang kulit telur di tahun lalu, kini Bambang Sriyanto kembali berkreatifitas dengan membuat lukisan capres dan cawapres nomor urut 01 dan 02 dari pecahan cangkang kulit telur di atas media guci. Lukisan capres dan cawapres ini, ia beri nama “Guci Demokrasi Menuju Istana”.

Ditemui di kediamannya di Jalan Tatapakan 2 No.1, Bantarjati, Bogor Utara, Bambang mengadakan, lukisan capres dan cawapres pada dua guci itu, ia kerjakan selama enam minggu atau satu setengah bulan lebih lamanya.

“Saya mengerjakan ini, sehari dua sampai empat jam. Itu pun kalau tidak ada kesibukan lain atau sedang mood. Yang pasti dibutuhkan kesabaran dan ketelitian,” ucap pria 69 tahun kelahiran Wonogiri ini, Selasa (12/3/19).

Ia menjelaskan, guci yang dipakai sebagai media berukuran tinggi sekitar 90 cm dan lebar sekitar 45 cm. Dipakainya media guci sebagai dasar lukisan karena guci ini, diibaratkan sebagai tropi atau piala yang diperebutkan oleh capres dan cawapres yang berkompetisi menuju istana.

“Awal pengerjaan saya buat gambar sket dulu sebagai acuan gambar. Kemudian baru ditempel pecahan cangkang kulit telur dengan menggunakan lem kayu. Setelah selesai kemudian di couting dengan cairan khusus. Untuk gambar yang memiliki keragaman warna, cangkang telur diwarnai dengan cat,” jelasnya.

Pada permukaan guci, sambung Bambang, dilukis kandidat capres dan cawapresnya. Lalu pada sisi lainnya dilukis peta Indonesia, bendera merah putih dan burung garuda sebagai lambang Pancasila. Sedangkan pada bagian dudukan guci dilukis lambang sila pertama hingga kelima Pancasila.

Alasan ia menggambar capres dan cawapres kata Bambang, karena kedua duanya punya khans yang sama untuk memimpin Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang berdasarkan Pancasila. Karena itu, dimasukkan juga lukisan peta Indonesia, bendera merah putih dan Garuda Pancasila.

“Indonesia menggelar pemilihan umum setiap lima tahun sekali. Makanya momen ini, saya abadikan selain buat menambah koleksi juga untuk menyalurkan inspirasi di momentum pilpres yang memiliki makna tersendiri bagi bangsa Indonesia. Jadi, bukan karena ada yang mesan atau sengaja dibuat untuk dijual. Tapi kalau ada yang mau beli ya ga menutup kemungkinan saya jual,” ungkapnya.

Ia mengaku, hobi sampingannya ini, sudah ia jalani selama 8 tahun yakni dari tahun 2011. Hingga sekarang sudah ada 40 koleksi hasil karya yang ia buat.

“Biasanya saya melukis di atas triplek yang permukaannya datar. Kalau guci kan bentuknya agak bundar jadi di situ tingkat kesulitannya. Keinginan saya, lukisan guci demokrasi menuju istana ini, bisa dijadikan properti pajangan di debat pilpres terakhir nanti,” harapnya.

Selain lukisan wajah capres dan cawapres, terdapat 40 karya lukis dari cangkang kulit telur lainnya yang sudah ia buat seperti; maskot Asian Games 2018, istana Bogor, ilustrasi konflik di Palestina, wajah Presiden RI mulai dari Soekarno sampai Joko Widodo hingga wajah tokoh-tokoh dunia, seperti Donal Trump, Ahok, Dalai Lama, Marilyn Monroe, Sadam Husein dan masih banyak lagi.

“Ide ini bukanlah yang pertama. Sudah ada orang lain yang melakoni seni ini lebih dulu. Saya hanya mendaur ulang ide yang sudah ada. Meski kegiatan ini, hanya sebagai pengisi waktu di masa tua, saya berharap bisa memamerkan hasil karyanya ke khalayak umum,” pungkasnya. (*di)