Hadapi Dengan Senyuman

mediabogor.com, Bogor – Pada Kamis (21/2) Putra sulung Musisi Ahmad Dhani Prasetyo (ADP), Al Ghazali mengunjungi ayahnya yang tengah menjalani penahanan di Rutan Klas I Surabaya, Medaeng, Sidoarjo. Al menyemangati ADP dengan menyanyikan lagu Hadapi Dengan Senyuman (Republika.co.id, 21/2/2019).

ADP didakwa melanggar Pasal 27 ayat 3 UU ITE tahun 2016 tentang pencemaran nama baik. Jaksa mendakwa ADP dengan dugaan pelontaran ujaran kebencian karena menyebut kata “idiot” pada saat acara deklarasi #2019GantiPresiden di Surabaya beberapa waktu lalu. Saat itu, ADP dan rekannya tengah dihadang massa di Hotel Majapahit. Pada sidang perdana Hakim menuntut ADP dengan hukuman penjara 1 tahun 6 bulan. ADP kemudian langsung dibawa ke LP Cipinang yang kemudian dipindahkan ke Rutan Klas I Surabaya.

ADP seolah sudah memahami jauh sebelumnya, dia akan menghadapi sebuah situasi yang berat, atas sikap dan pilihan politiknya. Putusan hakim pada sidang perdana tersebut dihadapi dengan senyuman. Senyum yang seolah menggambarkan kemenangan. Sebagaimana lagu yang diciptakannya.
Dia tetap tenang, dan yakin semuanya akan baik-baik saja pada akhirnya. Dia percaya pada takdir, ketetapan Tuhan. Inilah sisi relijius ADP. Semuanya tinggal dia jalani. Ikhlas, pasrah akan putusan. Percaya bahwa skenario Tuhan adalah yang terbaik. Itulah yang ditunjukkan ADP walaupun upaya hukum terus dilakukan. ADP berpesan kepada Al agar melanjutkan perjuangannya menegakkan kebenaran dan keadilan.

Penahanan ADP ini semakin memperlihatkan potret rezim represif negeri ini. Tudingan pemerintah sebagai rezim represif bukanlah tanpa bukti. Nyaris banyak rakyat dan oposisi yang dijebloskan ke penjara hanya karena mereka lugas menyampaikan kritik. Sementara banyak kawan sekubu yang lolos dari jerat hukum padahal telah jelas melanggar hukum. Contoh kasus ujaran kebencian yang dilakukan oleh Viktor Laiskodat, Ade Armando, Permadi Arya dan lain-lain tidak tersentuh hukum. Hal ini seolah menggambarkan hukum di rezim ini tajam ke lawan (pihak oposisi) dan tumpul ke kawan (pendukung rezim).

Sikap pemerintah yang anti kritik dan represif menunjukkan bahwa politik dalam sistem demokrasi memungkinkan partai penguasa sebagai pengusung demokrasi melakukan berbagai upaya untuk meraih dan melanggengkan kekuasaan bukan untuk kepentingan rakyat. Pemerintahan dalam sistem demokrasi memang tidak bisa diharapkan dan tidak akan mampu melayani dan mengurusi rakyat. Banyak celah untuk untuk melegalkan tindakan ketidakadilan. Hanya sistem politik dan kepemimpinan Islam yang benar-benar tegak untuk mengurusi kepentingan umat. Sistem Islam adalah satu-satunya sistem pemerintahan yang berkeadilan. Penegakkan hukum Islam secara kaffah adalah jaminan keadilan untuk seluruh rakyat. Islam memberikan ruang pada umat untuk mengawal pelaksanaannya dengan mekanisme muhassabah/mengkritisi penguasa sesuai tuntunan hukum syara.

 

Rina Nata
Bogor

foto: ilustrasi/istimewa