Ini Kata Warga Bogor Soal LGBT

mediabogor.com, Bogor – Menyikapi maraknya prilaku Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender (LGBT) yang telah mewabah di berbagai wilayah di Indonesia termasuk Kota Bogor, menuai banyak reaksi dan kecaman dari berbagai kalangan di tengah masyarakat. Saat tim mediabogor melakukan survey dengan menanyakan persoalan LGBT kepada masyarakat secara acak, salah satu warga yang berprofesi sebagai pengajar di Kota Bogor, SN mengatakan, dirinya menolak LGBT dimana pun kelompok itu berada karena tidak sesuai dengan ajaran agama manapun. Menurutnya, LGBT merusak banyak tatanan kehidupan dan kesehatan bahkan memperbanyak peluang kerusakan generasi bangsa.

SN menerangkan, keberadaan LGBT tentunya menimbulkan gangguan. Pertama, akan timbul banyak pandangan dan persepsi baru yang ambigu tentang gender. Kedua, menjadi salah satu penyumbang penyakit kulit-kelamin, HIV/AIDS dan yang paling berbahayanya adalah penyakit yang menyerang psikologi (mental illness), sakit mental seperti depresi, bipolar dsb. Ketiga, merusak banyak tatanan sistem nilai kehidupan, norma, agama dan pendidikan.

“Semenjak saya menjadi guru di usia muda, saya pun merasakan dampak yang luar biasa perihal ini, terhadap anak didik saya. Mereka jadi melihat figur yang membingungkan tentang gender. Tak ayal, Hal ini, membuat mereka akhirnya banyak bertanya ini dan itu. Contoh kecilnya saja; “Bu, kok laki-laki kenapa jadi bencong?” Dan ada beberapa kasus anak jadi meniru perilaku yang tidak sesuai dengan kodratnya. Anak laki-laki bersikap seperti wanita begitu pun sebaliknya. Semua itu, mereka lihat dari media seperti televisi dan juga internet. Jadi, kami guru-guru di sini berusaha keras untuk membendung hal-hal seperti itu,” terangnya.

Ia melanjutkan, ada baiknya dilakukan penelitian lebih dalam mengenai dampak LGBT pada pendidikan dan kesehatan. Karena hal itu, menjadi dua aspek penting untuk menentukan kualitas SDM yang pada akhirnya menentukan nilai suatu bangsa. Saat ditanya apakah LGBT sesuai dengan norma, agama dan budaya Indonesia, terutama ke Bogoran? Ia menjawab tentu saja tidak sesuai. Baik itu, dengan norma, agama, dan budaya Indonesia apalagi kota tercinta Bogor. Tidak sama sekali.

Ia menilai pemerintah Kota Bogor belum tegas terhadap kelompok LGBT. Menurutnya, pemerintah jangan hanya fokus dalam tindak penangkapan saja. Tindak pencegahan jauh lebih baik. Pemerintah Kota Bogor harus melakukan pendekatan melalui sisi kesehatan serta pendidikan. Entah itu, lewat koordinasi yang berkelanjutan, seminar di lingkungan atau lembaga yang berpengaruh di lingkungan tersebut agar lebih merata. Jangan biarkan masyarakat buta dan apatis perihal LGBT. Mereka perlu diberikan pengetahuan tentang ini. Pendekatan kesehatan bisa melalui tenaga kesehatan. Begitu pun pendekatan pendidikan bisa melalui banyak jalur, seperti di sekolah, di majelis, entah itu, pendidikan ilmu dunia ataupun agama khususnya.

“Saya rasa pendekatan secara agama adalah hal efektif lagi terbaik. Masyarakat perlu dibentuk menjadi masyarakat yang peka dan tanggap terhadap lingkungannya sendiri. Agar mereka tahu dan mengerti bahwa apa yang sedang terjadi di lingkungan sekitarnya itu, adalah hal yang melanggar norma. Saya rasa masyarakat pun harus diberi motivasi dan jaminan untuk turut berpartisipasi dalam pencegahan penyebaran LGBT ini. Karena, LGBT itu, penyakit lingkungan. Bukan genetik atau sebagainya. Jadi, cara terbaiknya adalah sambil terus menindaklanjuti kasus yang sedang berjalan,” tegasnya.

Ia melanjutkan, Pemerintah Kota Bogor pun harus gencar membicarakan dan mengedukasi isu ini, dengan tegas. Terutama menindak lanjuti kasus yang sudah terjadi. Sedangkan mengenai hukum, dirinya yakin Kota Bogor sudah mengikuti aturan. Tapi, tentang ketegasan dalam tindak pencegahan penyebaran LGBT dirasa belum serius.

Ia meneruskan, dirinya memang belum pernah melihat aktifitas LGBT di Kota Bogor. Tapi, di indikasikan mereka tersebar di taman-taman kota seperti Sempur, Ekspresi, jalan terowongan di bawah, jalan penyebrangan lorong di Botani dan di mall-mall. Yang jelas terlihat yakni laki-laki yang berpenampilan seperti perempuan begitu pun sebaliknya.

Beberapa faktor semakin maraknya LGBT di Indonesia dan Kota Bogor, lanjutnya, pertama, peran media massa. Kedua, pengetahuan masyarakat yang kurang. Dirinya mengisahkan, teman dari sahabatnya menjadi homo/gay/lesbi adalah karena mengejar popularitas. Jadi, LGBT dijadikan sarana untuk populer, hits untuk menaiki tangga sosial dan ekonomi. Mereka pun didukung dengan perawatan salon, uang jajan yang besar, liburan ke tempat yang mahal, baju, hp dan tas bermerk, handphone yang mahal. Tapi, ada juga yang menjadi homo/gay/lesbian karena masalah keluarga seperti kurang figur ayah, atau benci figur ayah. Untuk anak laki-laki bisa jadi homo/gay. Untuk anak perempuan bisa jadi lesbi. Karena saat itu, mereka mengalami kesalahan persepsi yang diakibatkan trauma psikologis.

“Namun, kasus yang di atas tadi tidak selalu terjadi. Hanya ada beberapa yang begitu. Contohnya kawannya kawan saya dan kakak senior saya. Jadi, nyatanya memang benar LGBT itu, ada dan bisa menular karena lingkungan,” ungkapnya.

“Harapan saya pemerintah Kota Bogor langsung bertindak nyata lagi tegas dalam aspek penanggulangan kasus yang sedang berjalan maupun dalam usaha pencegahan. Seimbang, kontinyu, dan komprehensif. Melakukan terus riset yang mendalam dan meluas dalam aspek kesehatan, pendidikan maupun agama. Berkoordinasi langsung dengan pihak-pihak yang terkait dengan tepat. Baik itu, lembaga kesehatan dan tenaga kesehatan, lembaga pendidikan dan tenaga pendidika, lembaga keagamaan dan para pemuka agama. Jangan biarkan masyarakat merasa baik-baik saja dan menganggap LGBT sebagai lelucon atau candaan. Masyakarat harus terus di edukasi dengan jalan kerja sama dan kekeluargaan agar mudah dalam segi penyampaian dan kebermaknaan. Sehingga akhirnya mereka paham, bahwa apa yang mereka anggap lumrah (tentang LGBT) bukanlah hal biasa saja yang boleh diterima,” pungkasnya. (Rn)