Mediabogor.com, Jambi – Perbuatan Januari alias Joni (43) dan istrinya, Robina (26), warga Kabupaten Bungo, Jambi, sungguh masih sangat diluar akal sehat. Joni yang juga ternyata memiliki 16 istri itu mengaku, terpaksa melakukan penculikan terhadap siswi 15 tahun berinisial RS lantaran membutuhkan darah perawan untuk menghilangkan ilmu peletnya.

“Saya mengakui kesalahan yang saya perbuat. Saya bertobat, saya mohon ampun kepada Allah,” kata Joni.

Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polres Bungo, pun langsung berhasil mengamankan Joni setelah terpaksa dilumpuhkan dengan timah panas karena mencoba melawan saat penangkapan di salah satu rumah majikannya di dusun Sikampil, Kecamatan Pelepat.

Diungkapkan Joni, dia harus mengambil darah perawan untuk dilumurkan di tubuhnya. Perawan tersebut diperkosa dahulu. Joni pun mengaku, keinginan kuatnya untuk menghilangkan ilmu hitam lantaran ia sangat mencintai istrinya, Robina. Sebab, jika ilmu peletnya tidak dimusnahkan, maka istrinya akan terus bertambah. Padahal kini istrinya sudah ada 16.

“Kalau tidak dibuang, saya akan nikah terus. Saya tidak mau nikah lagi. Istri saya ini sangat sayang dan perhatian sama saya,” terangnya.

Melunturkan Ilmu dengan Darah Perawan

Joni pun mengaku, ilmu pelet diperolehnya saat masih bujangan, dari seseorang di Jawa Barat. Hal itu dilakukan karena ia kerap dicaci maki seorang wanita. Untuk melunturkan ilmu itu, perintah sang guru harus mengambil darah perawan dan diusapkan ke punggungnya.

Itulah dasarnya ia menculik seorang gadis dan diperkosa berkali-kali. Menurut pengakuannya, setelah darah perawan itu di oleskan ke tulang punggungnya, dia merasakan ada perubahan yang dirasakan.

“Saya merasakan ada perubahan, rasanya jika wanita melihat saya, mereka merasa jijik,” imbuhnya.

Diceritakan Joni, korban yang diperkosanya merupakan anak tetangganya sendiri. Kronologis penculikan, awalnya pelaku Robina yang merupakan istri Joni meminta korban menemaninya ke dusun Rantau Ikil, kecamatan Jujuhan untuk mengambil uang. Korban saat itu tidak mengamini ajakan Robina lantaran belum minta izin kepada kedua orang tua. Terlebih ia masih menggunakan seragam sekolah.

Pelaku pun terus membujuk rayu melalui via telpon seluler agar korban bisa ikut bersamanya. Akhirnya korban mau ajakan itu mengingat Robina mengaku sudah meminta izin kepada kedua orang tua korban yang merupakan tetangga. Korban dan pelaku Robina pun berangkat menuju wilayah TKA. Tanpa korban ketahui ternyata suami pelaku sudah menunggu di salah satu simpang menuju kebun di wilayah KM 35.

Korban Dicekik dan Diseret

Korban pun dibawa ke sebuah pondok di dalam kebun. Malam harinya korban dianiaya setelah memberontak meminta diantar pulang. Korban dicekik pelaku dan diseret ke bawah salah satu pondok oleh pelaku Joni dan disaksikan istri pelaku. Korban berhasil kabur sekitar pukul 12.00 WIB. Ia melarikan diri hingga dua jam dan bertemu dengan petani yang tengah menyadap karet.

Berharap ditolong, namun petani tersebut malah ketakutan dan menolak untuk menolong korban dengan alasan takut terlibat. Korban kembali berlari menyusuri hutan dan kebun masyarakat, hingga bertemu dengan warga lainnya yang juga nyadap karet. Untung saja warga itu bersedia menolong dan menghubungi masyarakat lainnya. Sekitar pukul 16.00 WIB korban baru bisa berjumpa dengan keluarga dan masyarakat Sungai Lilin, Kecamatan Tanah Sepenggal Lintas yang sejak malam hari mencari korban.

 

 

 

(sumber:jpnn.com)