Mencermati Penghargaan Dewan Pers

Penghargaan yang disematkan pada Presiden Joko Widodo ( Jokowi) pada saat puncak Hari Pers Nasional di Surabaya, Sabtu (9/2) mendapatkan kritikan deras dari publik. Termasuk dari Wakil Ketua DPR Fadli Zon. Beliau mengungkapkan dalam keterangan tertulisnya “Sangat ironis. Ini seharusnya membuat insan pers merasa prihatin,”. Komentar beliau ini muncul di hari yang sama pada saat pemberiaan medali penghargaan kemerdekaan pers.

Padahal belum lama sebelumnya, Jokowi telah membuat gaduh insan pers karena memberikan remisi pada otak pembunuhan wartawan Radar Bali meskipun pada akhirnya dibatalkan. Namun, dihari itu Jokowi mendapatkan penghargaan tertinggi dari dewan pers nasional.

Hal ini menunjukan bahwa menjelang tahun politik ini, media mainstream semakin condong pada petahana. Begitulah konsep penguasa kapitalis. Penguasa sekaligus akan bermain didalam korporasi. Termasuk korporasi media informasi yang digandrungi mayoritas masyarakat pada umumnya. Setiap pemberitaan mereka akan condong pada penguasa yang ada. Sehingga menjadi buta mana salah dan benar, mana adil dan zalim. Pada akhirnya masyarakat yang waras akan tidak percaya pada media mainstream tersebut.

Berbeda halnya pada masa kekuasaan Islam berlangsung. Islam menjadi tolak ukur kebenaran di masyarakat. Al-quran Sebagai kalam Illahi menjadi pedoman hidup bermasyarakat dan bernegara. Pada masa Kekhilafahan islam, media berfungsi sebagai edukasi dan mencerdaskan umat.

Semoga masa itu segera kembali. Pada masa itu setiap muslim akan menjaga diri dengan sikap dan lisan yang benar sebagaimana yang dituturkan oleh Habib Abdurrahman Al Habsy menyampaikan, berkata benar dan tulus adalah karakter orang beriman seperti yang diperintahkan Allah SWT dalah surat Al-Ahzab ayat 70. “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kalian kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar.” Penghargaan pun akan diberikan pada tokoh yang konsisten melakukan hal itu. Bukan pada yang plin plan.