Menengok Situs Tugu Lonceng, Cagar Budaya Yang Dilupakan

mediabogor.com, Bogor – Terlelak tak jauh dari Stasiun KRL Cilebut, Bogor, tepatnya berada di ujung Timur Jalan Pendidikan, sekitar kurang lebih 200 meter dari stasiun, terdapat bangunan dengan 4 pilar setinggi sekitar 8.5 meter di antara semak-semak dan ilalang. Diketahui ternyata bangunan tersebut adalah salah satu situs cagar budaya yang sudah tidak terawat bahkan kurang diperhatikan.

Situs Tugu Lonceng namanya. Tetapi, jangan berharap akan menemukan lonceng di situs ini, karena keberadaannya sendiri seakan terabaikan ditambah adanya beton di sepanjang jalan yang menutupi situs ini. Penampilannya yang kurang mencolok membuat situs ini luput dari perhatian.

Untuk ke lokasi Situs Tugu Lonceng sendiri, bagi yang tidak mengetahuinya akan terasa sulit. Bukan karena kurangnya petunjuk, tetapi justru karena adanya papan penunjuk lokasi di pinggir Jalan Pendidikan itu tertanda “Situs Tugu Lonceng. +- Km”. Padahal jarak antara papan tersebut dengan situs cagar budaya Kabupaten Bogor itu, hanya berjarak kurang dari 15 meter saja.

Masalah lainnya adalah tumbuh suburnya lapak-lapak pedagang kaki lima dan para ojek online yang menunggu penumpang di area situs sehingga cagar budaya ini, tidak begitu terlihat dari jalan. Begitu pula jalan masuk hampir tidak ada, kecuali melewati tanah kosong berilalang.

Apa itu Situs Tugu Lonceng?
Tidak ada sama sekali keterangan yang menjelaskan asal muasal bangunan ini. Yang ada hanya sepenggal cerita dari penduduk setempat.

Menurut Kosasi yang mengaku sebagai juru rawat tugu, dahulunya situs ini merupakan peninggalan zaman Prabu Siliwangi yang artinya sejak Kerajaan Sunda Galuh. Hal itu, ditandai dengan adanya 4 patung macan di depan tugu tersebut sebagai gerbang. Namun, patung-patung tersebut hilang dicuri sekitar tahun 80an.

“Sejak tahun 1989 Tugu Lonceng sudah masuk ke Situs Cagar Budaya Kabupaten Bogor. Namun, sayangnya situs ini, kurang mendapat perhatian. Terlihat dari bangunan yang tidak terawat alias rusak dan adanya ilalang yang menutupi area tersebut,” kata Kosasi, Minggu (24/3/19).

Ia melanjutkan, bila dikaitkan dengan nama situs ini, sekarang justru tidak terdapat lonceng yang menggantung di tugu tersebut. Kata Kosasi, sekitar tahun 60an lonceng yang berdiameter sekitar 60-80cm tersebut hilang dicuri.

Ia menuturkan, pada zaman penjajahan Belanda, daerah tersebut merupakan area perkebunan karet dan lonceng yang digunakan sebagai tanda jam kerja para buruh tani kala itu. Setelahnya menjadi kantor pemerintahan Belanda dan tugu tersebut menjadi posnya.

“Lonceng itu, biasanya dibunyikan setiap pagi sebagai penanda apel. Kalau merujuk cerita ini, berarti memang usia Tugu Lonceng sudah melebihi 50 tahun yang merupakan syarat minimal untuk masuk kategori cagar budaya. Tepatnya tidak diketahui, bisa 50, 100, dan bahkan 200 tahun mengingat Belanda sudah ada di Indonesia sejak 1603,” ujarnya sambil membersihkan ilalang dan sampah disekitar Tugu Lonceng tersebut.

Kosasi mengaku, keterangan tersebut didapat dari orang tua dan kakeknya yang turun temurun menceritakan Tugu Lonceng. Bahkan, selain menjadi juru bersih Kosasi dipercaya sebagai generasi ke-3 yang tahu betul sejarah Tugu tersebut.

“Gak tentu ya, biasanya tiga bulan sekali dibersihkan. Kadang kalau udah keliatan kotor kita bersihkan lagi. Ini peninggalan sejarah perlu dijaga dan dirawat,” katanya.

Kosasi berharap situs tugu tersebut mendapat perhatian dari Dinas. Akan sangat disayangkan, bila di kemudian hari bangunan situs ini menghilang, karena satu dan lain hal. Kalau situs Tugu Lonceng ini hilang, bisa dikata satu lagi sebuah saksi sejarah Kabupaten Bogor terhapus dari catatan.

Dari pantauan di lokasi, kondisi Situs Tugu Lonceng bisa dikatakan terancam. Papan penanda Cagar Budaya sepertinya tidak akan mampu mencegah rusaknya bangunan situs.

Pertanyaannya bisakah Situs Tugu Lonceng dijadikan tujuan wisata?

Melihat perkembangan di kawasan Cilebut, rasanya hampir tidak memungkinkan untuk dijadikan sebagai tempat tujuan wisata. Bahkan di dekat lokasi situs Tugu Lonceng, terlihat sudah berdiri beberapa bangunan. Belum lagi perkembangan Cilebut dekat stasiun yang cenderung menjadi area komersial dan perumahan.

Padahal, sebagai bangunan cagar budaya, situs ini tentu mengandung sejarah masa lalu Bogor. Tentu hal tersebut bisa dijadikan sebagai daya tarik bagi penggemar wisata sejarah.

Terlepas dari semua itu, ada satu hal mendesak yang seharusnya dilakukan. Bangunan situs sendiri sudah terlihat tua. Salah satu pilarnya sudah hancur. Ditambah dengan semakin berkembangnya “pasar” dadakan di sepanjang jalan tersebut. (*/di)