Mengajukan gugatan terhadap mantan klien 64 miliar rupee, Bos Josca: Saya akan tetap pada hukum

Jakarta, KOMPAS.com – Pendiri dan CEO PT musim semi Indonesia Mali (Josca) Akkar Abisa Fedzono Ia menyatakan siap mengikuti prosedur hukum terkait gugatan yang diajukan mantan klien Jouska terhadap dirinya.

Sebanyak 45 mantan klien Jouska yang diwakili oleh firma hukum Munde Herlambang & Rekan telah mengajukan gugatan terhadap Aakar dan anak perusahaannya ke Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Pusat dengan total ganti rugi sebesar Rs 64 miliar.

“Saya patuhi prosedur hukumnya,” ujarnya kepada Kompas.com, Jumat (20/11/2020).

Ia mengatakan, melalui tindakan hukum yang dilakukan mantan klien Juska tersebut, diharapkan penyelesaian perkara investasi di perusahaan perencanaan keuangan tersebut bisa lebih diperjelas.

Baca juga: Puluhan mantan agen Guska menggugat Akar Abisa sebesar 64 miliar rupee

“Dengan adanya gugatan hukum dari klien ini, saya berharap masalah ini menjadi jelas dan ada solusinya,” kata Akar.

Untuk memperoleh informasi, 45 mantan klien mengajukan gugatan terhadap 10 pihak terkait The Juska Affair. Gugatan ini diajukan dengan Perkara Nomor 676.Pdt.G / 2020 / PN.Jkt.Pst pada tanggal 19 November 2020.

Kesepuluh terdakwa tersebut adalah Akar Abisa Vidzono sebagai Tergugat Pertama, Caroline Himawati Hidagat, Tergugat Josephine Handayani Hidagat, Tergugat Ketiga, Chrisen Herawati, Tergugat Keempat, PT Philip Securitas Indonesia, dan Terdakwa F.

Selain itu, PT Sentral Mitra Informatika Tbk sebagai Tergugat Keenam, Tergugat 7 PT Amarta Investa Indonesia, Tergugat Kedelapan PT Jouska Finansial Indonesia, Tergugat Kesembilan PT Mahesa Strategis, Tergugat X PT MNC Sekuritas.

Dalam pernyataan resmi yang dikeluarkan oleh Kantor Hukum Munde Herlambang & Rekan disebutkan bahwa Jouska, melalui Aakar, mengarahkan dan menggunakan rekening penggugat atau mantan klien melalui anak perusahaannya, Amarta dan Mahesa, untuk melakukan pembelian besar-besaran saham Sentral Mitra Informatika, penerbit crypto KEBERUNTUNGAN.

READ  Dampak merebaknya Corona, Matahari rugi 617 Miliar Rupiah dan tutup 7 gerai!

Pembelian besar-besaran tersebut mengakibatkan kenaikan harga saham LUCK yang signifikan yang sengaja dibuat atau dikenal sebagai “fried stock”, dan tidak berdasarkan penilaian atau evaluasi investor terhadap kondisi keuangan, aset, atau prospektus LUCK.

Baca juga: Damai dengan pelanggan, CEO Josca mengatakan dia telah membayar 13 miliar rupee

Selanjutnya diklarifikasi bahwa Aakar selaku pemegang saham dan komisaris Amarta dan Mahesa dengan Caroline, Josephine dan Christine sebagai pemegang saham LUCK telah menandatangani perjanjian melawan hukum karena melakukan manipulasi harga di bursa.

Sedangkan peran Philip Sekuritas dan MNC Sekuritas sebagai perusahaan tempat mantan nasabah membuka dan menyimpan dana dalam bentuk Rekening Dana Investor (RDI) diduga memberikan akses kepada Amarta dan Mahesa yang tidak memiliki izin sebagai manajer investasi atau bekerja sama dengan mereka.

Pengacara mantan klien tersebut mengklarifikasi dalam pernyataannya, Jumat (20/11/2020), bahwa “tujuannya adalah untuk melakukan jual beli saham LUCK tanpa persetujuan, sepengetahuan dan konfirmasi dari penggugat.”

Written By
More from Hamal Hamid

Jendela-jendelanya diharapkan akan didekorasi pada Desember 2020, sehingga stok-stok ini dapat diperhatikan

Klarifikasi. IHSG terkonsolidasi selama delapan hari berturut-turut. Namun, ini bukan karena pekerjaan...
Read More

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *