Mengintip Petilasan Ciung Wanara di Tegal Gundil

mediabogor.com, Bogor – Tidak banyak yang tahu jika di Kelurahan Tegal Gundil, Kecamatan Bogor Utara, Kota Bogor, terdapat petilasan Ciung Wanara. Ciung Wanara sendiri adalah suatu legenda penguasa tatar sunda pada masa kerajaan Galuh Purba.

Petilasan yang berada di samping taman palupuh atau belakang SMAN 7 Kota Bogor ini, memang agak sulit ditemukan karena selain tidak adanya penunjuk arah ke lokasi, petilasan berada di tempat yang terbilang lenggang.

Dari pantauan di lokasi petilasan, papan informasi yang menjadi satu-satunya penanda petilasan juga tidak terlihat jelas dari jalan yang ada di depannya. Selain tulisannya yang kecil juga tertutup oleh atap sebab bangunan petilasan berada agak rendah dari dataran posisi jalan.

Pada bagian sisi atas pintu masuk terdapat papan informasi bertuliskan ‘Petilasan Eyang Prabu Ciung Wanara Tegal Gundil Bogor Pajajaran’. Bangunan petilasan berwarna putih tersebut terlihat sudah lusuh dengan warna cat yang memudar. Pada halaman depan terdapat patung ayam jantan dan patung seikat padi yang berada tepat di sisi kiri pintu masuk.

Memasuki rumah terdapat dua ruangan yang difungsikan sebagai mushola dan satu ruangan lagi sebagai ruang petilasan. Ada dua petilasan diruangan itu, yakni petilasan Ciung Wanara dan Ratu Naga Ningrum yang disebut sebagai ibu dari Ciung Wanara.

Dalam ruangan petilasan tak banyak informasi yang bisa didapat hanya ada sebuah tulisan bijak yang konon katanya merupakan tulisan dari sesepuh penjaga petilasan.

“Fangeling ngeling, cintailah sesama manusia sebagaimana mencintai dirimu sendiri. Hormatilah kesopanan dan berlaku sopanlah kepada siapapun juga. Janganlah kamu membenci kepada sesama manusia jika kau ingin dicintai. Lenyapkanlah perasaan dan perbuatanmu yang iri dengki. Tanamlah perasaan yang welas asih dalam sanubari mu,” begitu kalimat yang tertulis.

Penjaga petilasan generasi keempat, Ummi Warni (68) mengaku, tak banyak tahu soal cerita dan sejarah petilasan Ciung Wanara ini. Yang dia tahu tempat itu, adalah petilasan tempat seseorang yang dianggap sesepuh.

“Kata bapak (penjaga petilasan sebelumnya) disini tempat tempat pertapaannya kesepuhan yang paling tua,” ujarnya, Jumat (12/4/2019).

Ummi mengatakan, orang yang mengetahui tentang sejarah dan cerita soal petilasan adalah bapaknya yang telah meninggal lima tahun lalu. Sementara dia sendiri mengaku hanya dititipkan untuk merawat dan menjaga petilasan.

“Saya disini cuma menjaga saja. Kalau cerita atau sejarahnya saya tidak tahu betul. Hanya bapak yang tahu. Saya dititipkan untuk menjaga petilasan ini oleh bapak, dirawat dan jangan sampai disalahgunakan. Banyak memang yang datang kesini nanyain sejarahnya tapi saya bilang tidak tahu,” ujarnya.

Ia mengatakan, orang yang datang berkunjung biasanya adalah mahasiswa, dan orang yang sengaja datang untuk melihat dan mencari informasi soal petilasan. “Dulu waktu bapak masih hidup banyak sekali yang datang kesini. Kalau sekarang sudah agak berkurang. Yang berkunjung biasanya orang-orang jauh seperti dari Cirebon, nanya-nanya ke bapak soal sejarah,” katanya.

Di tempat terpisah, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Bogor, Sahlan Rasyidi mengatakan, jika suatu bangunan berusia di atas 50 tahun maka termasuk cagar budaya. Sahlan mengungkapkan, bahwa petilasan Ciung Wanara hingga saat ini belum terinventarisir oleh Disparbud Kota Bogor sebagai bangunan yang dilindungi atau cagar budaya. “Belum terinventarisir,” jawabnya singkat. (*/di)