Menuju Hijrah, Anak Punk Gelar Pengajian Rutin

mediabogor.com, Bogor – Memperbaiki diri untuk menjadi lebih baik adalah suatu kenyakinan yang bisa menyentuh siapa saja. Namun, hal itu tentu memerlukan proses dan niat yang kuat untuk menjalaninya.

Begitupun yang dijalani segelintir anak punk yang mencoba hijrah dari stigma negatif karena penampilan dan gaya hidup mereka yang dicap ‘liar’ dan ‘tak tahu aturan’.

Bahkan, mereka selalu dianggap mengganggu ketertiban dan meresahkan masyarakat karena penampilannya yang ‘gelap’ urakan karena berpakaian sobek-sobek penuh tambalan, tatto pada bagian badan, tangan, leher serta wajah, ditambah piercing di banyak bagian tubuh, dan model rambut yang khas.

Namun, dibalik itu semua, setelah menjalani rutinitas kesehariannya mencari rezeki dengan mengamen dijalanan, jauh dari jalanan dan tak terlihat oleh banyak orang, beberapa anak punk menyempatkan waktunya untuk mengikuti pengajian rutin di rumah singgah yang berlokasi di Cibereum, Kota Bogor.

Dengan memakai baju koko, sarung dan kopiah, pengajian pun dimulai dengan mengaji membaca iqra yang dipandu oleh ustaz Abu Thoriq atau yang akrab dipanggil Ageum. Sekitar 30-45 menit belajar membaca Alquran, sesi selanjutnya adalah sesi diskusi atau kajian mengenai persoalan sehari hari yang dikaitkan dengan agama.

Ageum menjelaskan, pengajian anak punk ini, awalnya dari Bekasi dengan nama kegiatannya Punkajian Bekasi. Program mengajak kebaikan di Bekasi ini, kemudian menyebar hingga ke Bogor. Setelah berkoordinasi dengan Punkajian Bekasi, kemudian dirinya ditugaskan untuk membangun pengajian punk di Bogor. Kegiatannya pun tidak serta merta langsung mengadakan pengajian tapi dilakukan dulu pendekatan secara persaudaraan dengan anak-anak punk yang ada di Bogor. Dari situlah pengajian ini, di beri nama Punkgil Aku Saudaramu (PAS).

“Awalnya kita kumpul, sharing di jalan. Hanya karena bising dan terlihat tidak elok maka kita berinisiatif mencari tempat untuk berkumpul,” ujarnya, Selasa (25/6/19).

Ageum mengungkapkan, menyewa rumah untuk tempat berkumpul pun susah. Ada 20 tempat yang menolak disewakan untuk dijadikan rumah bagi anak punk berkumpul. Mungkin mereka masih memandang negatif tanpa melihat sisi positifnya.

“Akhirnya kita mendapati tempat kontrakan yang kita sebut rumah singgah. Tanggapan warga dan ketua RT nya pun positif. Mereka menerima dan menyambut baik kegiatan yang kita lakukan di rumah singgah ini,” ucapnya.

Ia melanjutkan, pengajian ini, baru berjalan tiga bulan. Rutin digelar setiap Selasa dan Jumat bada ashar.

“Hari Selasa kita belajar baca Alquran dilanjut kajian tauhid. Lalu hari Jumat selain belajar iqra juga ada pembelajaran ibadah dan ruqiyah. Jumlah yang ikut tidak tentu. Kita tidak bisa memaksa. Yang mau belajar Alquran, belajar ibadah, belajar untuk menjadi lebih baik, atau ingin curhat masalah apapun datang aja kesini setiap hari Selasa dan Jumat,” imbuhnya.

Sementara, Acong, salah satu anak punk yang mengikuti pengajian menuturkan, motivasi mengikuti pengajian adalah ingin belajar ngaji dan agama agar menjadi pribadi yang lebih baik seperti yang diajarkan dalam ajaran Islam.

“Seperti saya yang tadinya tidak bisa ngaji sekarang jadi bisa setelah ikut pengajian. Dan saya engga malu ngaji dari nol lagi kalau emang harusnya begitu, ya, saya jalanin. Ngapain malu untuk yang baik. Menjadi baik itu proses. Jadi, harus dijalani karena perlu proses,” kata Acong usai pengajian.

Ia mengatakan, sekedar hijrah itu gampang. Yang sulit itu istiqomahnya. “Baik itu adalah proses. Kita sudah istiqomah tapi ada saja tantangannya. Itu yang belum saya bisa dan masih perlu proses. Jadi bertahap dulu,” ungkapnya.

Meski sudah rutin mengikuti pengajian, soal penampilan, Acong menilai itu bukanlah tolak ukur yang utama untuk diubah.

“Itu sih gimana hati dan pribadi masing masing tapi Insya Allah nanti bertahap. Sekarang ibadahnya dulu diperbaiki. Yang jelas setelah ada rumah singgah ini, kita sama-sama belajar menjadi lebih baik. Tetap semangat dan istiqomah,” kata ayah empat anak ini. (*/d)