mediabogor.com, Bogor, Bagi kaum komuter, warga Kota Bogor yang bekerja di Jakarta dan pergi pulang setiap hari, perjalanan menuju kantor dan pulang ke rumah menjadi perjuangan tersendiri. Mereka harus pandai-pandai memilih moda transportasi yang tepat. Moda transportasi yang dapat memenuhi kriteria nyaman, bisa menjalani waktu tempuh relatif lebih singkat dan tarifnya terjangkau.

Memang ada banyak moda transportasi yang setiap hari wara wiri Bogor – Jakarta dan  bisa menjadi pilihan. Mereka bisa menggunakan Kereta Rel Listrik (KRL), bus reguler yang berangkat dari Terminal Baranangsiang atau bus APTB yang bergerak dari Bubulak. Bahkan angkutan bus – bus kecil yang setia menempuh jalur lama Bogor – Jakarta lewat Cibinong.

Tetapi bagi sebagian pekerja, semua jenis moda transportasi tersebut belum memenuhi kriteria tadi. KRL yang sudah jauh lebih baik pelayanannya, ternyata belum bisa menjadi pilihan utama sebagian dari pekerja. Mereka beralasan, kereta selalu penuh bahkan padat. Juga karena letak stasiun terlalu jauh dari kantor mereka.

Kenyataannya, KRL memang sudah padat dan konon pengguna commuter line ini sudah hampir melampaui target. Sementara itu bus reguler yang sudah puluhan tahun melayani trayek Bogor – Jakarta, belum juga menampakan perubahan kualitas pelayanan.

Kondisi itulah yang membuat sebagian pekerja akhirnya mencari alternatif. Sebagian memilih untuk ikut mobil tebengan. Sebagian lagi bergabung dalam kelompok dan menyewa bus khusus untuk antar jemput atau memanfaatkan bus jemputan yang disediakan oleh kantor masing-masing. Namun sebagian lainnya memilih memanfaatkan mobil pribadi.

Jumlah mereka yang menggunakan mobil pribadi ternyata cukup besar. Setiap hari, kendaraan yang masuk pintu Tol Jagorawi di Baranangsiang mencapai sekitar 2.700 unit kendaraan. Sebagian diantaranya adalah mobil yang dipergunakan para pekerja ke Jakarta.

Kondisi itulah yang antara lain menyebabkan jalan Tol Jagorawi dan Jakarta semakin padat dengan jumlah kendaraan yang lebih besar. “Jumlah tersebut belum memperhitungkan kendaraan dari arah Bogor yang masuk melalui Tol BORR, pintu tol Ciawi, Sentul Sirkuit dan Cibinong,” kata Jimy Hutapea, Kepala Bidang Angkutan Dinas Perhubungan Kota Bogor.

Untuk mengurangi beban kepadatan kendaraan pribadi di jalan tol dan Jakarta, maka diperlukan peningkatan pelayanan angkutan umum. Tujuannya, supaya para pekerja yang menggunakan kendaraan pribadi ke Jakarta, bisa beralih pilihan dan mau memanfaatkan layanan kendaraan umum. Pemikiran itulah yang mendasari Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ) mengoperasikan Bus Transjabodetabek.

Setelah mengoperasikan jalur Bekasi – Jakarta, kini BPTJ mulai mengoperasikan bus sejenis untuk jalur Bogor – Jakarta. Pada jalur Bogor- Jakarta, BPTJ telah menunjuk DAMRI sebagai operatornya, sedangkan di jalur Bekasi – Jakarta, PPD dipilih sebagai operatornya.

Bus berangkat dari pool bus Botani Square dan akan menempuh perjalanan menuju kawasan Senayan. Setelah keluar dari pintu tol Semanggi, bus tersebut akan melintasi Jalan Gatot Subroto, berputar di Semanggi melintasi Jalan Sudirman dan masuk Jalan Asia Afrika, sebelum akhirnya berhenti di salah satu mall di kawasan Senayan. Jalur yang sama akan ditempuh pada saat kembali sore hari menuju Bogor.

Bus yang digunakan tergolong bus premium. Para penumpang dilayani dengan kenyamanan kursi reclining seat yang dilengkapi instalasi listrik untuk memudahkan penumpang me-charge HP atau laptop, serta wifi disamping AC tentunya. Jumlah kursi hanya tersedia 44 unit dan dalam rencana ke depan, bus akan melaju di jalur khusus untuk menjamin kelancaran di perjalanan. Tarifnya Rp 35.000,- per penumpang untuk satu kali perjalanan.

Hari Selasa, 31 Oktober 2017, operasional bus tersebut diresmikan di poll bus Botani Square. Sebanyak 3 unit bus memulai perjalannya. Bus pertama berangkat dari Bogor jam 05.00 dan disusul bus kedua dan selanjutnya. Kembali ke Bogor bus pertama jam 16.00. Rencananya DAMRI akan menyediakan 6 unit yang terbagi pada 3 unit berangkat dari Bogor dan 3 unit lainnya dari Jakarta.

Operasional bus tersebut akan menjalani masa uji coba selama 10 hari. “Selama tiga hari pertama, perjalanan bus dikawal voorijder, sehingga pada uji pada hari pertama, perjalanan bus dari Bogor – Senayan hanya memerlukan waktu sekitar 80 menit,” ungkap Jimy.

Tentu capaian waktu tersebut bukan waktu tempuh yang normal. Capaian tersebut akan dibandingkan dengan uji coba bus tanpa pengawalan. Ditargetkan nantinya bus ini akan mampu menempuh perjalanan  antara 90 menit sampai dengan 2 jam.

Pada dasarnya segala sesuatunya yang terjadi selama 10 hari masa uji coba, termasuk berbagai kendala yang dihadapi akan dievaluasi. Termasuk evaluasi  terhadap kesiapan penggunaan jalur khusus di Jalan Tol Jagorawi untuk memudahkan bus melaju dengan lancar. Dalam rencananya, jalur khusus tersebut juga dapat dipergunakan oleh bus-bus angkutan umum reguler yang melayani rute Bogor – Jakarta.

Banyak harapan disampaikan pada operasional bus premium ini. Khususnya harapan, agar mereka yang terbiasa menggunakan mobil pribadi untuk bekerja ke Jakarta, bisa beralih dengan memanfaatkan bus ini. Dengan demikian pertambahan jumlah kendaraan pribadi di jalan tol dan di wilayah Jakarta diharapkan bisa ditekan. Namun yang tak kalah penting, kebutuhan para pengguna kendaraan umum, bisa menikmati perjalanan yang lebih nyaman untuk bisa tiba di tempat kerja atau tempat tujuan masing-masing. Selamat mencoba! (Advertorial)