Penyesatan Opini Kampanye #JanganSuriahkanIndonesia

mediabogor.com, Bogor -Ada pihak-pihak yang mencoba menggiring opini, jika dibiarkan maka Indonesia akan pecah dan hancur seperti di Suriah. Akan terjadi perang saudara berdarah-darah karena menjadikan sentimen agama sebagai landasan. Agama dituduh menjadi biang perpecahan karena agama dipakai dalil untuk meraih kekuasaan.

Jika ingin Indonesia aman dan tentram, tetap terawat kebhinnekaan dan kesatuannya maka jangan pernah memakai agama dalam urusan politik, meraih kekuasaan. Akhirnya, jangan bawa-bawa syariah Islam dalam berpolitik. Apalagi membawa simbol-simbol bendera tauhid (Liwa dan Roya). Ini adalah sumber malapetaka, seperti ISIS di Suriah. Sehingga muncul tagar #JanganSuriahkanIndonesia. Benarkah narasi ini? Apakah narasi tersebut sesuai fakta? Dan apakah narasi tersebut merupakan propaganda yang justru menyudutkan Islam dan pejuangannya?

Sejak Suriah merdeka tahun 1946, telah mengalami sedikitnya 5 kali kudeta militer. Kudeta terakhir dilakukan oleh Hafez Assad (Ayah Bashar Assad-Presiden sekarang) pada 8 Maret 1963. Dengan kekerasan militer Hafez Assad menggulingkan kekuasaan dari Presiden sah Nazim Al Qudsi. Sedangkan di Indonesia tidak pernah terjadi kudeta militer.

Selama berkuasa, Hafez Assad hingga Bashar Assad mempertahankan rezimnya dengan cara kejam. Melalui Partai Sosialis Arab, Baats, rezim berkuasa sendirian di Suriah. Rezim melakukan teror, penangkapan, penyiksaan, pembunuhan dan pengusiran. Bahkan pernah tercatat, dengan teror dan intimidasi Partai Sosialis Arab, Baats memenangkan pemilu 100%,

Rezim Assad, dengan mudahnya melalukan pembantaian, penghancuran dan pembumihangusan warganya sendiri dengan bom-bom kimia, pesawat tempur, helikopter, tank, meriam-meriam dan roket-roketnya. Akibat tangan besi inilah, rakyat Suriah melakukan perlawanan. Apalagi di picu dengan revolusi arab sebelumnya. Muncullah faksi-faksi perjuangan untuk melawan rezim. Jadi, yang membuat porak-poranda Suriah justru rezim yang berkuasa. Bukan isu perjuangan syariah Islam dan Khilafah. Sedangkan di Indonesia, tidak ada rezim yang dalam mempertahankan dinastinya bertindak brutal sebagaimana brutalnya Basar Assad.

Dalam situasi kacau seperti itu, muncullah ISIS yang di klaim sebagai sumber masalah perpecahan dan kehancuran Suriah. Namun perlu diketahui, bahwa ISIS adalah bentukan AS dalam rangka memporak-porandakan Timur Tengah. Mantan menteri luar negeri dan ibu negara AS Hillary Clinton secara terang-terangan mengakui bahwa Islamic State of Iraq and Suriah (ISIS) merupakan gerakan buatan AS guna memecah belah dan membuat Timur Tengah senantiasa bergolak. Pengakuan tersebut termuat dalam buku terbaru HIllary Clinton “Hard Choice” dan menjadi pemberitaan luas media-media massa internasional akhir-akhir ini.

Mantan Menlu di kabinet pertama Presiden Barack Obama itu mengaku, pemerintah AS dan negara-negara barat sengaja membentuk organisasi ISIS demi memecah belah Timur Tengah (Timteng). Hillary mengatakan gerakan ISIS sepakat dibentuk dan diumumkan pada 5 Juni 2013. “Kami telah mengunjungi 112 negara sedunia. Lalu kami bersama-sama rekan-rekan bersepakat mengakui sebuah Negara Islam (Islamic State/IS) saat pengumuman tersebut,” tulis Hillary.

Dalam buku tersebut juga diuraikan bahwa “negara Islam” itu awalnya akan didirikan di Sinai, Mesir, sesuai revolusi yang bergolak di beberapa negara di Timur Tengah. Namun rencana itu berantakan setelah militer Mesir melakukan kudeta, Juli 2013. “Kami memasuki Irak, Libya dan Suriah, dan semua berjalan sangat baik. Namun tiba-tiba meletus revolusi 30 Juni – 7 Agustus di Mesir. Itu membuat segala rencana berubah dalam tempo 72 jam,” ungkap istri mantan presiden AS, Bill Clinton, itu.

Bahkan Presiden Amerika Serikat Barack Obama mengakui melatih tentara ISIS dalam sebuah konferensi pers membicarakan ISIS. Diberitakan RT, Rabu (8/7/2015), pernyataan Obama itu disampaikan setelah mendapatkan penjelasan dari para pejabat keamanan soal upaya AS dalam mengalahkan ISIS, salah satunya adalah memberikan pelatihan bagi kelompok pemberontak moderat di Suriah. Dalam konferensi pers, Obama mengatakan bahwa “kami meningkatkan pelatihan pasukan ISIL, termasuk relawan dari suku Sunni di Provinsi Anbar.” ISIL adalah sebutan lain ISIS yang biasa digunakan pemerintah AS.

Jika kita jujur melihat fakta sejarah yang ada maka opini #JanganSuriahkanIndonesia adalah kampanye yang tidak sesuai fakta dan justru memutarbalikkan fakta yang ada namun dipakai untuk menyudutkan orang atau ormas yang konsisten memperjuangankan Syariat Islam menjadi sandaran bertingkah laku dalam seluruh aspek kehidupan, baik individu hingga bernegara. Kampanye #JanganSuriahkanIndonesia sejatinya ingin menikam habis orang dan ormas yang memperjuangkan syariah Islam dengan di cap seperti ISIS yang brutal dan menghancurkan Suriah. Sebab ISIS dikampanyekan berjuang demi tegaknya Islam dan Khilafah.

Jadi, Indonesia tidak akan pernah jadi seperti Suriah jika dan hanya jika rezim bertindak brutal seperti Basar Assad dan berkolaborasi dengan AS dan sekutunya. Selama itu tidak ada maka yakinlah, Indonesia ya Indonesia, tidak seperti Suriah. Namun lain cerita jika rezim yang berkuasa kalap dan gelap mata dalam mempertahankan kekuasaannya plus berkolaborasi dengan makar AS yang jahat. Jadi tidak benar jika perjuangan menjadikan syariat Islam mengimplementasi dalam kehidupan sehari-hari di tuduh akan memecahbelah persatuan dan kesatuan bangsa ini, bahkan akan menjadikan Indonesia hancur lebur seperti Suriah karena konflik sektarian. _Wallahu’alam_

 

Oleh: Dwi Hendri (Pengamat Politik)