Perjuangan Siswa dan Guru di Gunung Silung, Rumpin Meraih Cita-Cita

mediabogor.com, Bogor – Kisah pilu terjadi di dunia pendidikan, tepatnya di Ujung Gunung Suling Kampung Haniwung, Desa Rabak, Kecamatan Rumpin Kabupaten Bogor. Di mana siswa-siswa dari SDN Negeri 01 Rabak harus belajar dengan kondisi serba gubuk, tiang kayu, serta atap keropos yang bisa membahayakan 42 siswa penerus Bangsa itu. Tak hanya itu, para siswa – siswi yang ingin bersekolah untuk mencapainya mereka harus melewati rintangan, seperti menembus hutan dan melewati jalan setapak yang dikelilingi jurang dan bebatuan. Namun, hal itu tidak menyurutkan mereka untuk bersekolah. Terbukti mereka masih bisa tersenyum dan bermain bersama temannya – temannya, dan serius dalam memperhatikan saat Guru mengajar.
SDN 01 Rebak menjadi salah satu sekolah pertama yang berada di kawasan gunung. Tak ayal sekolah tersebut menjadi salah satu unggulan yang dihuni oleh warga Haniwung dengan jumlah penduduk 73 Kepala Keluarga (KK) atau sebanyak 325 jiwa. “Ya beginilah kondisi sekolah SDN 01 Rebak serta kekuranga dan keterbatasan dari segi fasilatas maupun kenyamanan dan anak-anaknya semaunya. Kadang ada yang kabur ke kandang kambing, ada yang lari-larian,” ungkap Dedi Supardi, guru honorer yang baru dua tahun mengajar.
Dedi mengungkapkan, bahwa setiap harinya Guru-Guru rela menempuh perjalanan melelahkan dengan kondisi jalan yang sebagian masih tanah berbatu, belum lagi jika musim hujan. Tak hanya licin, jalanan pun dipenuhi tanah merah yang riskan dilewati. “Awal-awal memang kaget, tetapi karena sudah menjiwa akhirnya enak saja jalaninya. Butuh waktu sekitar 20 menit untuk ke sekolah karena kan naik motor. Kalau hujan, motornya didorong,” ungkapnya dengan nada rendah.
Dengan medan dan kondisi seperti itu, setiap guru hanya digaji sebesar Rp 700 ribu per bulan. “Itu pun baru-baru ini didapat. Saat awal mengajar, guru hanya diberi upah mengajar sebesar Rp 500 ribu, sekarang Alhamdulillah sudah Rp 700 ribu. Ya Insya Allah, namanya rezeki nggak akan tertukar,” kata Dedi.
Dedi mengaku sempat terbesit untuk mundur dari profesinya sebagai pengajar, namun melihat semangat anak-anak, ia pun akhirnya tergerak tetap menjalani meski setiap hari harus berjuang melewati jalanan terjal yang kadang membuat energinya terkuras habis. “Ya pernah ingin mundur, tetapi kalau bukan saya siapa lagi. Sedangkan guru-guru di SD induk pun tidak ada yang mau ngajar di sini karena jauh dan jalannya yang curam,” ungkap lelaki yang hanya lulusan SMA ini.
Dedi berharap, nantinya anak-anak di sekolah ujung Gunung Suling ini dapat melanjutkan mimpinya meraih cita-cita, meskipun sarana pra sarana yang diberikan jauh dari harapan. “Yang penting anak-anak bisa calistung sudah Alhamdulillah,” pungkas dia. (AW).