Refleksi Ekonomi Politik Indonesia 2018

mediabogor.com, Bogor – Kembali Kepada Sistem Islam Untuk Kehidupan Yang Lebih Baik. “Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit.” (QS.Thaha:124) 

Tahun 2018 telah ditutup dengan berbagai peristiwa dan kejadian yang luar biasa. Di bidang ekonomi hampir tidak ada perbaikan dan beberapa bidang bahkan mengalami kemerosotan. Pada tahun 2018 gelombang PHK terus terjadi. Menurut Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) total buruh yang di-PHK sepanjang 2018 mencapai 15 ribu lebih. Perusahaan juga banyak yang bangkrut selama tiga tahun terakhir. Data dari Gabungan Pelaksana Konstruksi Nasional Indonesia (Gapensi) mencatat sebanyak 37 ribu perusahaan kontraktor swasta mengalami kebangkrutan dalam tiga tahun terakhir (Republika.co.id, 15/1/2019).

Tahun 2018 juga diwarnai impor yang jor-joran di kala di dalam negeri sendiri terjadi surplus produksi. Pada komoditas beras selama tahun 2018 sebanyak 2 juta ton diimpor dari Vietnam dan Thailand. Pemerintah juga telah memutuskan impor jagung sebanyak 100 ribu ton. Padahal tidak kekurangan. Bahkan surplus. Berdasarkan data Direktorat Jenderal Tanaman Pangan (Ditjen TP) Kementan, produksi jagung tahun 2018 diperkirakan mencapai 30 juta ton pipilan kering (PK). Padahal berdasarkan data dari Badan Ketahanan Pangan (BKP) Kementan, kebutuhan jagung tahun ini diperkirakan sebesar 15,5 juta ton PK. Masih surplus sebesar 12,98 juta ton PK (Finance.detik.com, 3/11/2018).

Demikian besarnya impor sampai terjadi defisit yang sangat besar. BPS merilis data neraca perdagangan Indonesia periode 2018 mengalami defisitsebesar USD8,57 miliar. Defisit ini adalah defisit terbesar sejak Indonesia merdeka. Potret kemiskinan kian mencolok. Pada bulan Maret 2018, jumlah penduduk miskin (penduduk dengan pengeluaran per kapita per bulan di bawah Garis Kemiskinan) di Indonesia mencapai 25,95 juta orang dengan standar kemiskinan hanya Rp 400.000/perbulan. Tingginya angka kemiskinan ini bahkan jumlahnya melebihi jumlah seluruh penduduk Australia (Merdeka, 1/2/2018).

Liberalisasi di bidang ekonomi menyebabkan tingginya kemiskinan dan lebarnya kesenjangan ekonomi. Menurut Anthony Budiman (Managing Director Political Economy and Policy Studies) jumlah kekayaan 4 orang terkaya Indonesia setara dengan 100 juta kekayaan penduduk miskin. (Liputan6.com, 5/4/2018). Berbagai kesulitan dan himpitan di atas adalah akibat dari berbagai kemaksiatan manusia dan pelanggaran mereka terhadap syariah Allah SWT. Terutama yang dilakukan oleh para penguasa dalam wujud berbagai tindakan zalim yang mereka lakukan.

Dalam hal ini Allah SWT berfirman: Telah tampak kerusakan di daratan dan di lautan akibat perbuatan tangan (kemaksiatan) manusia supaya Allah menimpakan kepada mereka sebagian akibat perbuatan (kemaksiatan) mereka itu agar mereka kembali (ke jalan-Nya) (TQS ar-Rum [30]: 41).

Kemiskinan di negeri ini juga diakibatkan oleh negeri ini terjerat utang ribawi. Saat ini utang luar negeri nyaris menyentuh angka Rp 5.000 triliun, dengan bunga yang harus dibayar setiap tahun lebih dari Rp 100 triliun. Akibatnya, pendapatan negara yang seharusnya bisa digunakan untuk mengatasi kemiskinan, terpakai untuk membayar utang ribawi berikut bunganya. Demikianlah sistem yang diterapkan di negeri ini, yakni sistem ekonomi kapitalisme. Menyebabkan kesulitan demi kesulitan yang dirasakan rakyatnya. Sistem ini jauh dari sistem Islam. Musibah dan kesulitan ini bisa dihentikan. Bahkan bisa dicegah. Pertama, dengan melakukan amar makruf nahi mungkar terhadap kezaliman. Kedua, menerapkan segala peraturan yang telah disyariatkan oleh Islam.

Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi. Akan tetapi, mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu sehingga Kami menyiksa mereka karena perbuatan yang mereka kerjakan (TQS al-Araf [7]: 96).

Kami menyerukan kepada penguasa negeri ini dan seluruh kaum muslimin untuk kembali kepada sistem Islam. Menerapkan seluruh perintah-perintah Allah SWT dalam segala aspek kehidupan. Wallahu a’lam.

 

Jakarta, 25 Januari 2019
Aliansi Pengusaha Muslim (ASSALIM) Ketua, Dede Sulaeman