Resolusi 2019: Menuju Perubahan Hakiki

mediabogor.com, Bogor – “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. (TQS.Al- A’raaf:96)”

Tahun 2018 sepertinya menjadi tahun duka dan kesedihan bagi bangsa Indonesia, khususnya bagi umat islam. Bencana demi bencana yang merenggut ribuan nyawa silih berganti.

Pada 5 Agustus, gempa berkekuatan 6,9 SR menghantam Pulau Lombok yang menelan 468 korban jiwa. Selanjutnya, akhir september gempa bumi berkekuatan 7,7 SR dan tsunami setinggi 1,5-3 meter menghancurkan Donggala, Palu. Bencana ini meratakan seluruh kota dan membuat lebih dari 330 ribu orang kehilangan tempat tinggal.

Pada 22 Desember, kembali terjadi rob-tsunami yang menerjang daerah Banten dan Lampung yang menelan korban sebanyak 437 meninggal dunia, 1.459 luka, dan 10 orang hilang (BNPB, 31/12). Menutup tahun 2018, 31 Desember kembali terjadi longsor di Kampung Adat Sukabumi yang sampai saat tulisan ini dibuat tercatat puluhan rumah tertimbun, korban meninggal 15 orang, 20 orang hilang (Tribunstyle.com, 2/1/2018).

Patut direnungkan oleh bangsa ini, apakah bencana demi bencana ini adalah teguran dari Sang Pencipta untuk negeri tercinta?. Menilik tahun 2018, kezaliman dan ketidakadilan yang dilakukan penguasa terhadap rakyat/umat islam semakin terpampang nyata.

Pelayanan kesehatan masyarakat (BPJS Kesehatan) dililit berbagai masalah.
Hutang negara yang terus meningkat. Tercatat pada Oktober 2018 utang luar negeri Indonesia menjadi 360,5 milyar US dollar. Pekerjaan semakin sulit, sementara gelombang pekerja asing terutama dari Cina meningkat.

Penguasa sekarang semakin zalim dan represif terhadap rakyat. Gugatan HTI atas Pencabutan BHP oleh pemerintah (tanpa proses pengadilan) diputuskan ditolak oleh PTUN pada awal Mei 2018 lalu, padahal banyak saksi yang menguatkan HTI.

Tom Power (The New Mandala) mengungkapkan pada tahun 2018 melihat semakin banyak bukti bahwa pemerintah Jokowi mengambil tindakan yang cenderung otoriter dalam menanggapi lawan-lawan politik. Tampak jelas, ulama dan tokoh-tokoh Islam yang dianggap mengancam kepentingan dan bersebrangan dengan penguasa dikriminalisasi. Suara umat Islam yang kritis dan berdasarkan syariah islam pun dibungkam dan dituding sebagai penghasutan, kebencian, makar, anti kebhinekaan, radikal hingga teroris.

Ketidakadilan terhadap umat islam semakin ditampakkan, akun-akun pro-Jokowi, yang kerap menghina Islam dan ulama, tampak seperti dibiarkan. Kasus Viktor Laiskodat, Ade Armando, Permadi Arya, Sukmawati, Grace Natalie yang diadukan karena melakukan penghinaan terhadap agama tidak jelas nasibnya.

Sudah selayaknya bangsa ini berbenah diri. Kezaliman demi kezaliman yang hadir di negeri ini tidak lain karena rezim saat ini menerapkan sistem yang memisahkan agama dari kehidupan (sistem sekuler). Penerapan sistem politik (demokrasi) yang buruk, sistem ekonomi yang semakin liberal membuat semakin jauhnya rasa keadilan sosial.

Teguran bencana demi bencana di tahun 2018 sepatutnya membuat bangsa ini memiliki resolusi di tahun 2019 dengan kembali pada hukum Sang Pencipta, Allah Swt.
Selayaknya umat islam kembali menjadikan Allah sebagai pengatur kehidupan ini. Islam tidak boleh lagi dipisah-pisahkan dari urusan kehidupan (politik, ekonomi, sosial). Syariat islam hendaknya dapat diterapkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Tahun 2019 ini sudah saatnya umat islam fokus dalam perjuangan untuk mewujudkan perubahan hakiki. Sistem sekuler yang rusak harus segera ditinggalkan. Perjuangan umat islam harus beralih demi terwujudnya sistem islam yang mengundang keberkahan dan rahmat bagi seluruh alam.

 

Oleh: Ustzh. Asma Abdallah