mediabogor.com, Bogor – Banyaknya keluhan masyarakat Bogor terkait pelayanan di rumah sakit yang ada di Kota Bogor, ternyata menjadi perhatian serius oleh jajaran Komisi D DPRD Kota Bogor. Pihak legislatif ini langsung memanggil seluruh pengelola rumah sakit yang ada di Kota Bogor untuk menggelar rapat bersama di gedung DPRD Kota Bogor saat beberapa waktu lalu.

Dalam pertemuan itu, hanya ada tiga rumah sakit yang tidak hadir diantaranya, RS Azra, RS Mulia dan RS BMC. Sedangkan seluruh rumah sakit hadir dalam pertemuan dengan Komisi D tersebut.

Belum puas dengan hasil pertemuan kemarin, kini Komisi D langsung melakukan inspeksi mendadak (Sidak) ke sejumlah rumah sakit, pada Kamis (18/10). Sidak dilakukan oleh Komisi D ke RS Vania di Jalan Siliwangi, ke RS Melania di Jalan Bondongan, dan RS Ummi di Empang, Kecamatan Bogor Selatan.

Anggota Komisi D, Atty Soemadikarya mengatakan, berdasarkan informasi yang diterima dari warga, maka dilakukan pengecekan ke rumah sakit sekaligus sharing terkait masalah pelayanan maupun lainnya.

“Kita lakukan pengecekan soal pelayanan, alat kesehatan maupun sarana prasarananya. Untuk di Kota Bogor ada sekitar 8 rumah sakit yang bekerjasama dengan BPJS, kita juga menanyakan soal pelayanan bagi pasien BPJS,” kata Atty.

Politisi PDI Perjuangan ini menjelaskan, dalam pelayanan, pihak rumah sakit harus mengedepankan sisi kemanusiaan, sedangkan sisi komersialnya jangan sampai diutamakan. Rumah sakit juga memang membutuhkan biata operasional, sehingga ketika melakukan klaim soal PBJS, diharapkan agar BPJS tidak terlambar membayar klaim tersebut.

“Dari sisi pelayanan seluruh rumah sakit yang dikunjungi cukup baik dan semoga bisa dipertahankan. Masalah sarana prasarana juga semoga semakin ditingkatkan, dan pasien yang menggunakan BPJS, semoga dilayani maksimal,” harapnya.

Senada, anggota Komisi D lainnya, Eny Indari mengatakan, pihaknya ingin memastikan situasi kondisi di rumah sakit dengan banyaknya keluhan da masukan aspirasi masyarakat. Terutama menyangkut soal ketika adanya penolakan pasien, soal BPJS kesehatan, soal sarana prasarana dan permasalahan lainnya.

“Kita ingin tahu bagaimana pelayanan di rumah sakit itu, karena berhubungan dengan keluhan maupun aspirasi aspirasi yang disampaikan masyarakan menyangkut rumah sakit. Sidak inipun menjadi bahan evaluasi bagi pihak rumah sakit,” ucapnya.

Terpisah, Direktur RS Melania Oktavia Nurdiani menuturkan, pelayanan  terhadap pasien sudah dilakukan secara maksimal dan optimal kepada seluruh pasien dan tidak ada perbedaan antara pasien yang menggunakan BPJS maupun tidak. Jumlah total tempat tidur di RS Melania ada sebanyak 68, dan 33 tempat tidur itu disiapkan untuk kelas 3.

“Untuk kedepannya RS Melania berencana mengembangkan sarana prasarana dan fasilitas medis maupun penunjang medisnya. Kita juga memberikan pelayanan maksimal kepada seluruh pasien disini,” pungkasnya. (RF)