Sat Narkoba Polresta Bogor Kota Amaankan Ribuan Obat-Obatan Terlarang

mediabogor.com, Bogor – Jajaran Sat Narkoba Polresta Bogor Kota berhasil menyita ribuan jenis pil dan obat-obatan terlarang, berikut meringkus belasan tersangka yang merupakan sindikat dan pengedar yang beroperasi di Kota Bogor. Menurut Kapolres Bogor Kota, Kombes Pol Suyudi Ario Seto, mengatakan bahwa jenis pil dan obat – obat terlarang ini hasi pengungkapan dari Tim Pemburu Narkotika Polresta Bogor Kota selama dua minggu.

Selain itu juga selama dua minggu ini mengungkapan beberapa pengedar Narkoba yang sudah lama beroperasi di wilayah Kota Bogor dengan motif beragam salah satunya mengedar dengan cara media sosial (Medsos). Tak hanya itu, ada juga yang berkedok toko obat (apotek), yang didalamnya terdapat ribuan pil narkoba dengan berbagai jenis.

“Jadi dalam dua minggu ini TPN Polresta Bogor Kota, berhasil mengungkap empat sindikat narkotika jenis sabu, ganja dan gorila. Selain itu, timnya mengamankan tujuh orang tersangka, diantaranya kelompok RY, RS, HD yang bertindak sebagai spesialis pengedar narkotika jenis sabu. Sementara, MG jaringan pengedar narkotika jenis gorila,” ujarnya kepada awak media saat melakukan press relase di di Mapolresta Bogor Kota, Jalan Kapten Muslihat Kecamatan Bogor Kota Tengah Kota Bogor

Bukan itu saja, lanjut Suyudi, dua kaki kanan MG yang bertugas sebagai kurir pun diamankan. Dari tangan tersangka, TPN berhasil mengamankan sabu dengan berat 32 gram dan gorila 84,1 gram. “Akibat perbuatannya itu, mereka (red, para tersangka) di arahkan ke pasal 114, 111 dan 112, Undang-undang Narkotika, Nomor 35 tahun 2009 dengan ancaman pidana 20 tahun penjara,” jelasnya.

Suyudi menambahkan, TPN juga berhasil mengungkap tiga pelaku dan satu jaringan, yakni kelompok ML, spesialis penjual obat-obatan keras dengan target sasarannya yakni dijual kepada anak muda yang ada di Kota Bogor. Sedangkan barang bukti yang berhasil diamankan sebanyak ratusan ribu pil dan obat-obatan keras.

“Ketiga tersangka tersebut terbukti telah menyalahgunakan Undang-undang Kesehatan pasal 196, tahun 2009 dengan ancaman pidana 15 tahun penjara,” pungkasnya. (AW).