Mediabogor.com, Jakarta – Penghuni kosan di Istana Laguna, Tanjung Duren, Grogol Petamburan, Jakarta Barat, dibuat geger setelah ditemukannya mayat seorang wanita yang diketahui bernama Murtiyaningsih. Dari hasil penulusuran, polisi telah mengungkap bahwa Murtiyaningsih merupakan seorang PSK online, dan ia tewas diduga dibunuh oleh salah satu pelanggannya. Polisi pun berhasil menangkap tersangka hanya beberapa jam setelah mayat korban ditemukan.

PSK online adalah sebutan untuk pekerja seks yang menjajakan diri secara online. Polisi menduga Murtiyaningsih sudah cukup lama menekuni bisnis prostitusi ini. Pada akun Wechat milik perempuan itu tertulis status “Open BO”. Istilah ini biasa digunakan oleh pekerja seks yang siap menerima panggilan secara online.

Di tempat kosnya, Murtiyaningsih lebih dikenal dengan panggilan Nana. Sebagian besar penghuni kos tidak tahu bisnis yang dijalani Murtiyaningsih. Sebab kos-kosan itu sangat bebas sehingga hampir setiap saat tamu datang dan pergi. “Saya kenal Mbak Nana tapi tidak terlalu akrab,” kata Dewi yang tinggal di sebelah kamar kos Murtiyaningsih, Sabtu, 23 September 2017.

Dewi mengatakan tidak mengetahui kehidupan Murtiyaningsih. Sebab perempuan itu sangat tertutup. Dewi hanya tahu satu kebiasaan Murtiyaningsih. “Setiap pagi dia menyetel musik sangat keras di kamarnya,” ujar Dewi. “Tapi pagi sebelum dia meninggal, nggak ada musik sama sekali.”

Menurut Dewi, dua hari sebelum tewas, Murtiyaningsih mengecat sendiri kamar kosnya. ”Saya tanya, Mbak Nana mau pindah ya? Tapi dia bilang enggak,” ujar Dewi. Setelah hari itu Dewi tidak bertemu lagi dengan Murtiyaningsih.

Murtiyaningsih ditemukan tak bernyawa di kamar kos nomor 309 lantai 3, Istana Laguna pada 21 September 2017. Diduga perempuan itu dibunuh karena pada tubuhnya terdapat tanda-tanda kekerasan fisik. Polisi hanya membutuhkan waktu sekitar empat jam untuk membekuk Agustinus yang diduga sebagai pelaku.

Berdasarkan hasil pemeriksaan diketahui pembunuhan ini berlatar belakang bisnis PSK online. Agustinus menggunakan jasa Murtiyaningsih yang memasang tarif Rp 500 ribu. Belakangan, Agustinus hanya menyerahkan uang Rp 150 ribu. Korban marah dan berteriak seraya mengancam akan memanggil preman. Agustinus menjadi panik. Dia memukul dan membekap Murtiyaningsih hingga tewas.

 

 

 

(sumber:tempo.co)