mediabogor.com, Bogo – Kasus sengketa lahan Wisma Latimojong yang kini di kuasai mahasiswa Sulawesi Selatan itu, ternyata sudah memakan waktu cukup lama, yakni 17 tahun. Dimana waktu itu, pihak Yayasan Islamic Center Al-Ghazali Bogor, membeli tanah kepada keluarga Ondace dengan pemilik tanah atas nama (Almh) Engkom Ondace pada tahun 2000 lalu.

Pengelola Yayasan Al Ghazali, KH Mustofa Abdullah Bin Nuh, menceritakan, waktu itu Yayasan Al Ghazali membeli sebanyak dua lokasi yang berada di sekitar Pondok Pesantren atau sekolah Al Ghazali. Tujuannya, untuk memperluas atau memperlebar lahan sekolah yang kini digunakan untuk pendidikan.

Dari dua lokasi tersebut, satu diantaranya berjalan lancar. Namun, satunya lagi ternyata sulit karena di kuasai oleh mahasiswa Sulawesi Selatan. Padahal, hak kepemilikan tanah disertai sertifikatnya itu jelas-jelas milik Yayasan Al Ghazali, atas nama Hj. Romlah, H. Nur dan H. Sukin yang di belinya dari Engkom Ondace yang di wariskan kepada Rudi Ondace.

“Kasus ini sudah empat kali digugat oleh mereka (mahasiswa, red). Yang pertama, menggugat ke BPN, kemudian dilanjutkan ke PTUN Bandung. Karena penasaran, mereka kembali menggugat ke PTTUN Jakarta-Cikini dan akhirnya sampai ke Mahkamah Agung (MA). Dari semua gugatan tersebut, mereka kalah secara hukum karena kami memiliki legalitas yang sah dan bersertifikat,” ujarnya kepada awak media saat conference pers di halaman Yayasan Al Ghazali, Kamis (27/4).

Kenapa dirinya ingin mengeksekusi Wisma tersebut, kata Mustofa, karena pihak yayasan sedang butuh untuk memperluas sekaligus menambah ruang kelas, mengingat jumlah pelajar yang ada di sini cukup banyak, yakni 2700 orang. Sehingga, harus ditambah ruang kelasnya.

“Kami sudah tiga sampai empat kali mengundang mahasiswa untuk membicarakan ini, tapi mereka tidak merespon. Bahkan, Kuasa Hukum Al Ghazali pun mengundang tiga kali dan hasil nol tak ada respon sama sekali. Akhirnya, sejak April 2016 lalu barulah kami layangkan surat pada awal tahun ini untuk mengupayakan eksekusi, karena kami sangat membutuhkan lahan tersebut untuk menunjang pendidikan di sekolahnya,” tegasnya.(AW)