Tablig Akbar di Bogor, Babeh Haikal Ajak Umat Teladani Rosulullah

mediabogor.com, Bogor – Rasulullah SAW merupakan teladan untuk sekalian manusia, khususnya kaum muslim. Oleh karena itu, kelahirannya dapat menjadi momentum pengingat untuk selalu memperbaiki kualitas diri dari sisi akhlak dan ibadah. Berlatarbelakang hal itu, Sahabat Karimah menyelenggarakan tabligh akbar dengan mengundang tiga penceramah yaitu Ustadz “Babeh” Haikal Hassan, Habib, Al Munawar, Ustadzah Euis Sufi Jatiningsih, dengan moderator Ust Arian M.A dan Ibu Yeni. Kegiatan dilangsungkan di Mesjid Alumni IPB Baranangsiang, Kota Bogor, Senin (10/12/18).

Disampaikan Ustadz “Babeh” Haikal Hassan, masyarakat Indonesia seyogianya meneladani kepemimpinan Rasulullah SAW. Sebagai pemimpin, beliau (Rasulullah SAW) sangat ingin memperhatikan pendidikan dan akhlak dalam keluarga. “Bangkitkan negeri dimulai dari membangun keluarga,” pesannya saat memberikan tausyiah bertema “Teladani Nabi Bangkitkan Negeri”.

Dalam kesempatan tersebut, Ustadzah Euis Sufi Jatiningsih menuturkan, yang lebih penting dalam peringatan nabi Muhammad SAW adalah bagaimana mengambil teladan dari beliau dari semua sisi kehidupan, mulai dari masalah pendidikan, rumah tangga, sosial ekonomi, kepemimpinan.

“Jadi maulidan-maulidan yang ada di kita ini, baru sebatas formalitas. Menurut saya cukup luar biasa dari sisi gebyarnya, tenda panggungnya, tapi orang lupa untuk meneladani serta mengambil pelajaran tentang sosok Rasulullah SAW,” ucapnya.

Sementara itu, Habib Al Munawar menambahkan, dalam menghidupkan maulid harus bisa diaplikasikan di setiap lini gerakan tanpa melihat tempat ruang lingkup masyarakat baik itu perempuan maupun laki-laki. Sebenarnya itu bisa diterapkan. Jangan hanya berharap dapat rahmat dari Allah SWT tapi masyarakatnya sendiri tidak berbuat apa-apa dari rahmat yang sudah diberikan Allah SWT.

Masih kata Habib Al Munawar, dirinya ingin momentum maulid adalah kesempatan untuk membangkitkan semangat pemikiran. Jadi ada energi kebangkitan. Jangan saat itu saja sholawat setelah itu tidak sholawat lagi. Dan perlu diketahui kehidupan ini tidak cukup dengan formalitas, kehidupan ini butuh realitas. “Banyak moment yang kita miliki akan tetapi tidak jadi monument dikalangan umatnya. Jadi, jangan sampai hebohnya luar biasa tapi setelah itu mati suri,” pesannya.

Lebih lanjut Arian Maha Adi, salah satu moderator Kajian Tabligh Akbar, dalam acara ini pihaknya tidak bisa langsung mengutarakan sukses atau tidak, tapi kita bisa jadikan bahan dari para peserta yang banyak menyampaikan pesan permohonan maaf kepada anaknya dalam cara mendidik anaknya mungkin selama ini metode mereka ada yang salah. “Dalam isi tabligh Akbar ini banyak pesan untuk cara bagaimana mendidik anak yang bisa diserap oleh para orang tua dalam mendidik anak. “Kegiatan ini Alhamdulillah banyak di hadiri ratusan jemaah dari mesjid kita sendiri maupun dari luar jemah mesjid lainya,” tutupnya. (Nick)