Tawuran Bukti Rusaknya Pergaulan

mediabogor.com, Bogor – Lagi-lagi tawuran antar pelajar kembali terjadi. Selasa petang, 22 Januari 2019 tawuran terjadi di daerah Karehkel dekat Terminal Leuwiliang Kab. Bogor. Seorang pelajar menengah atas tewas, dan 2 lainnya luka berat karena sabetan senjata tajam. Sama seperti tawuran antar pelajar sebelumnya, penyebab dari tawuran ini adalah dendam akibat saling ejek. Mereka janjian untuk tawuran dan mempersiapkan senjata tajam. Selang dua hari kemudian, 24 Januari 2019 terjadi lagi aksi penyerangan oleh sejumlah pelajar kepada pelajar yang sedang nongkrong di sebuah halte Kota Batu Kab. Bogor. Pelajar korban bersimbah darah akibat sabetan senjata tajam kemudian langsung dilarikan ke rumah sakit oleh warga yang menemukan.

Dalam seminggu ini, terjadi dua kejadian yang membuat hati miris melihat kelakuan pelajar masa kini. Kejadian ini juga menjadikan resah dan pilu bagi para orang tua. Ini bukan kenakalan remaja biasa. Ini sudah merupakan tindakan kriminal. Selama tahun 2017-2018, di Kota dan Kabupaten Bogor tercatat 7 kasus tawuran besar yang menyebabkan 4 orang tewas dan 18 luka-luka. Ini adalah catatan yang harus mendapatkan perhatian dan tindakan.

Beberapa faktor yang menjadi penyebab perilaku ini diantaranya adalah sistem pendidikan saat ini yang memisahkan agama dari kehidupan. Target pendidikan tampak hanya mengejar nilai akademis semata. Pendidikan agama, moral dan budi pekerti hanya sedikit ditanamkan dan dipelajari hanya untuk mendapat nilai. Alih-alih pelajar bisa menghasilkan berupa solusi-solusi kehidupan, namun justru malah hadir menjadi sumber masalah.

Faktor lainnya diantaranya adalah arus pergaulan karena konten tontonan saat ini yang banyak mengandung unsur kekerasan dan konten negatif lainnya. Lepasnya kontrol dari keluarga, masyarakat yang cenderung individualis dan kurang tegasnya sanksi sehingga tidak membuat jera dan tidak mampu menjadi pencegah. Pola pikir dan pola sikap berdasarkan nilai-nilai luhur Islam tidak tertanam, baik di lingkungan keluarga, sekolah maupun masyarakat.

Tawuran karena dendam dan saling ejek ini merupakan cerminan dari kurang mengenanya pendidikan agama dan budi pekerti baik di sekolah ataupun lingkungan sekitar. Kejadian ini menjadi salah satu bukti rusaknya sistem pergaulan (interaksi sosial) di kalangan pelajar. Rusak dan kurang peka dalam interaksi sosial merupakan bukti kurangnya penanaman kepribadian Islam.

Pelajar sekolah menengah atas merupakan insan yang sudah aqil dan baligh seyogyanya sudah menjadi pribadi yang bisa bertanggungjawab atas dirinya dan perbuatannya. Sikap saling menghormati dan menghargai antar sesama harus bisa diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Motivasi bersekolah adalah dalam rangka menuntut ilmu untuk bekal di masa depan.

Orang tua, guru, masyarakat dan pemerintah harus bersama dengan sungguh-sungguh agar masalah tawuran dan kenakalan remaja lainnya dapat terselesaikan. Segenap elemen masyarakat harus mengupayakan agar pendidikan moral budi pekerti dan nilai-nilai luhur Islam tertanam kuat di hati pelajar. Pendidikan kepribadian islam yang meliputi pola pikir dan pola sikap islam harus diwujudkan dalam keseharian dan diintegrasikan dengan pelajaran yang lain. Dengan demikian, pengamalan pola pikir dan pola sikap Islam menjadi kebiasaan dan mampu membentuk pribadi pelajar menjadi pribadi yang islami( berpikir dan bertindak sesuai pandangan Islam).

Sebagai daerah mayoritas muslim dengan slogan kota beriman, pendidikan budi pekerti dan penanaman akidah Islam kepada generasi muda harus digalakan. Sistem pendidikan harus dibenahi. Pendidikan yang memisahkan agama dari kehidupan harus ditinggalkan. Nilai-nilai dan aturan Islam yang menyangkut interaksi sosial satu sama lain harus ditanamkan. Islam harus diajarkan tidak hanya sebagai aspek ibadah ritual. Nilai-nilai Islam dan aturannya yang melingkupi seluruh aspek kehidupan tidak boleh dipisahkan, sehingga pelajar mampu menjadikan Islam sebagai tuntunan. Jika pelajar menjadikan Islam sebagai pedoman kehidupan dan memiliki kepribadian yang islami niscaya tidak akan ada lagi tawuran.

 

Rina Kusrina, MSi
Pemerhati Remaja Bogor