Terungkap, Inilah 13 Alasan Seseorang Menjadi LGBT

mediabogor.com, Bogor – Berikut beberapa faktor yang mempengaruhi seseorang sehingga memilih untuk hidup dalam kelainan seksual. Pada dasarnya semua faktor ini saling berhubungan satu sama lain yang secara perlahan-lahan mengubah seseorang menjadi LGBT

1. Tidak percaya Tuhan

Tuhan jelas tempatnya di hati seseorang. Artinya, bila seseorang tidak memiliki Tuhan jelaslah sudah bahwa ada banyak momen yang dilaluinya dimana pikirannya dalam keadaan kosong. Bila pikiran menjadi kosong maka ada kecenderungan mudah tersulut hawa nafsu sesat baik yang berasal dari dalam diri sendiri maupun yang berasal dari luar (informasi dari lingkungan/ rangasangan ekternal). Mengapa manusia sering kehilangan pikirannya (akal sehat/ logika)? Karena hatinya hampa sehingga membuat pengendalian emosi rendah.

2. Keluarga yang memberi kebebasan kepada anaknya

Setiap keluarga harus menentukan sejak dini, apakah mereka hendak mendukung kaum LGBT atau tidak. Sebab keadaan ini sangat berpengaruh terhadap jawaban yang diberikan orang tua saat anak bertanya tentang “apakah yang dimaksud dengan gay/ lesbian?”. Bila orang tua cenderung menjawab dengan memberi toleransi (tidak tegas) terhadap pertanyaan anak maka dimasa depan ada kemungkinan anak tersebut merasa tidak masalah saat dirinya memilih untuk menjadi gay/ lesbian.

3. Trauma masa lalu yang buruk terhadap lawan jenis

Seorang anak bisa saja memiliki dendam pribadi kepada orang tua perempuan atau orang tua laki-laki. Ini didapatkan karena mereka memperlakukan/ sering bersikap kasar terhadap anaknya sendiri. Bila seorang anak tidak mampu memaafkan masa lalunya maka ada kecenderungan ia mendendam sekaligus takut kepada seseorang berjenis kelamin tertentu. Keadaan ini juga dipengaruhi oleh perlakuan yang kasar dari kebanyakan temannya berjenis kelamin tertentu.

4. Ejekan yang terus-menerus diterima sejak usia dini

Saat sejak dari kecil seorang akan dijuluki sebagai homo/ tomboy/ bencong dan lain sebagainya maka secara tidak langsung kata-kata ini akan menyerang mental dan kepribadiannya. Sekalipun hal ini berupa tekanan tetapi bisa saja bertransformasi menjadi sebuah sugesti terlebih ketika faktor lainnya mendukung. Keadaan ini akan semakin parah saja ketika anak tersebut tidak kuat hati/ tidak tabah/ tidak tegar menghadapi semua cobaan itu. Tentu saja karena dipengaruhi oleh faktor penyebab lainnya maka iapun putus asa lalu memilih untuk menikmati saja hinaan tersebut sembari menghidupinya (menjadi homo atau lesbian).

5. Kekaguman yang berlebihan kepada orang lain

Kita bisa saja kagum kepada seseorang tetapi ingat jugalah bahwa ada batas-batas yang memisahkannya dari perilaku menyimpang. Kami juga kagum kepada orang-orang tertentu yang entah berantah dilaporkan oleh media tapi bukan dalam arti kita bisa memperlakukannya sesuka hati (menganggap dia sebagai kekasih sesama jenis). Oleh karena itu, kita harus tahu batas jugalah, hindari sikap berlebihan yang cenderung memperlakukan sesama secara tidak manusiawi.

6. Hidup bergaul dengan orang-orang LGBT

Kita bisa bergaul dengan siapa saja. Dahulu ketika kami masih kuliah, beberapa teman gay juga mendekat/ merapat. Tapi kita tidak menjauhi mereka (malahan dekat-dekatan) melainkan biasa ajalalah. Masalahnya adalah bila diri ini terlalu sering bersama dan cenderung lemah prinsip hidupnya maka besar kemungkinan menjadi terpengaruh. Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik tetapi bukan dalam arti kita menjauhi orang-orang semacam ini. Bagaimana mungkin kita dapat mengubah mereka jika kita tidak dekat dengannya?

7. Ingin populer dan dipuji

Mereka yang memiliki hasrat yang tinggi terhadap pengakuan bisa saja menempuh jalan yang bengkok untuk mencapai tujuan tersebut. Ketika pengakuan, pujian dan popularitas telah membius dan menghipnotis kita maka segala cara akan ditempuh untuk meraihnya. Kemungkinan besar baginya menjadi lesbian ataupun gay tidak masalah agar orang lain mengakui keberadaannya, memujinya dan mempopulerkannya juga. Keadaan semacam ini akan semakin melemahkannya terlebih ketika ada komunitas tertentu yang memfasilitasi kemampuannya sehingga diakui dan dipuji orang.

8. Faktor ekonomi

Hal yang semacam ini banyak dialami oleh teman kami dahulu. Saat seorang homo yang kaya raya mencari mangsanya maka ia akan menentukan target, berbaik hati kepada orang tersebut, mencuri kepercayaannya lalu meminta kepada korbannya untuk menjadi pasangan baik secara lembut maupun secara kasar (memaksakan kehendak), baik secara terang-terangan maupun secara diam-diam. Dari sinilah banyak orang terjebak untuk menjadi gay, biseksual, lesbian dan transeksual karena uang di lahan ini cukup menjanjikan. Pemerintah yang kurang mau peduli dengan makin tingginya angka pengangguran cenderung semakin menambah jumlah mereka.

9. Pengaruh kapitalisme

Para kapitalis yang bawaannya serakah dalam hal seksual akan mendorong banyak orang menjadi lesbian atau homo. Dana yang besar di tangan akan dijadikan sebagai alat untuk memancing orang lain untuk menjadi serakah seksual seperti dirinya. Keadaan ini turut di dukung oleh karena banyaknya diantara rakyat yang masih hidup dalam kekurangan bahkan kemiskinan. Jadi oknum borjuis ini akan memanfaatkan orang-orang yang ekonominya lemah untuk dijadikan budak seks LGBT. Lagipula dengan dana besar yang ada di tangan mereka bisa mendanai berbagai-bagai acara yang diselenggarakan oleh kaum ini baik secara pribadi maupun secara organisasi.

10. Tidak mampu mengendalikan hawa nafsu yang sesat

Bila hasrat seseorang berada di luar kendalinya maka sikapnya ke depan tidak lagi menunjukkan tanda-tanda kemanusiawian melainkan melampiaskannya kepada siapapun dan apapun. Hasrat seksual yang tinggi namun kenyataan di lapangan tidak ada lawan jenis maka katanya dalam hati “nggak ada akar, rotanpun jadilah“. Saat teman sejenis (laki sama laki atau cewek sama cewek) disampingnya maka tidak mau lagi menyia-nyiakan kesempatan itu. Mengendalikan hawa nafsu adalah lebih penting untuk masa depan yang lebih menjanjikan. Lemah terhadapnya dapat membuatmu tersandung bahkan terperosok masuk ke dalam jurang yang dalam.

11. Tidak pernah disentuh sehingga sangat mudah terangsang.

Orang yang tidak pernah disentuh baik oleh orang lain maupun oleh diri sendiri maka suatu saat ketika ia pertama kali disentuh oleh orang lain cenderung menganggap orang tersebut sebagai kekasih hatinya sekalipun termasuk kaum lesbian/ gay. Oleh karena itu, setiap orang alangkah lebih baik jikalau mulai menyentuh, meraba dan memeras bagian-bagian tertentu yang sensitif dalam tubuhnya. Agar jika bagian tersebut secara tidak sengaja tersentuh oleh orang lain maka tidak muncul perasaan yang aneh-aneh.

12. Sudah terbiasa jadi terbawa-bawa.

Mereka mungkin pertama-tama hanyalah mencoba-coba saja. Tetapi karena mereka terus-menerus mengulang-ngulang hal tersebut maka menjadi kebiasaan. Apabila kebiasaan buruk ini terus berlanjut untuk dilakukan maka suatu saat kelak akan mendarah daging sampai tidak bisa lagi/ tidak mungkin dapat ditinggalkan sama sekali.

13. Menjadi perempuan tomboy dan laki-laki yang agak kemayu

Inilah yang namanya bawaan dari lahir karena kelebihan hormon ini dan itu. Keadaan ini hanya berhubungan dengan gaya seseorang dalam bersikap. Keadaan ini jelas tidak ada hubungannya dengan orientasi seksual seseorang terkecuali jikalau sikawan ini termakan bully lalu menghidupi julukan yang diberikan kepadanya.

 

Di atas semuanya itu ada pepatah yang mengatakan “dimana ada niat maka disitu ada jalan“. Jangan berpikir “terlanjur basah ya sudah basah sekali” sebab kesempatan untuk berubah terbentang luar di depan. Oleh karena itu, jangan menjauhi apa lagi menolak orang-orang seperti ini melainkan sebisa mungkin selamatkanlah mereka agar segera bertobat dan meninggalkan kebiasaan buruknya tersebut. Kami harap anda tidak memaksakan kehendak melainkan biarkan mereka menentukan pilihan hidupnya dari sekarang untuk masa depan yang lebih baik. (*)